<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5581144060124134777</id><updated>2011-07-31T03:40:21.673-07:00</updated><category term='remembering the sky'/><category term='1981'/><category term='AS'/><category term='fic'/><category term='1983'/><category term='voiceless'/><category term='fa'/><category term='ILYAF'/><category term='death'/><category term='1980-1981'/><category term='arcfond'/><category term='tim'/><category term='kelas mantera'/><category term='zavala'/><category term='danau'/><category term='yamadika'/><category term='award'/><category term='asrama ravenclaw'/><category term='thread'/><category term='koridor dan tangga'/><category term='hogwarts'/><category term='bulan'/><category term='ylva'/><category term='essay'/><category term='memories'/><category term='artois'/><category term='never is better'/><category term='echo again'/><category term='windstroke'/><category term='qualfrey'/><category term='1982'/><category term='bellamont'/><category term='profil'/><category term='ravenclaw'/><category term='seleksi asrama'/><category term='puzzle-riddle'/><category term='oswald'/><category term='kimiko'/><category term='surat tahun pertama'/><category term='1980'/><category term='IH'/><category term='moonlight'/><category term='happy ending'/><category term='them'/><category term='agatheness'/><category term='babu'/><title type='text'>Mr. Invisible</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://casanovartois.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Artois.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03148100767738575209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>17</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5581144060124134777.post-7729829286865334858</id><published>2009-10-15T05:16:00.000-07:00</published><updated>2009-10-15T05:18:22.453-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ravenclaw'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artois'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='them'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agatheness'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ILYAF'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='happy ending'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fic'/><title type='text'>[Fic] Memento Mori - Part 3; The End.</title><content type='html'>Basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengerjapkan mata sekali, pandanganku terlalu samar untuk menyadari aku sedang ada dimana. Yang jelas, tempat itu basah, amat basah, dan untuk bernafas pun sangat sesak luar biasa. Aku menutup mata sekali lagi ketika gelembung oksigen terakhir terlepas dari mulutku, dan seketika kelopak mataku terasa berat untuk kembali membuka. Cahaya samar terlintas di depanku, lalu semua gelap dalam hitungan sepersekian detik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;“Kau… Tidak apa-apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak terlalu sulit, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante? Sejak kapan umurku berubah sehingga bisa disebut tante, tuan muda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau lagi?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang sedang kalian lakukan di sini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Come on, it’s just a game.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa Artois, permainanmu cukup bagus. Kau hanya perlu lebih banyak latihan, oke?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pulanglah, nak. Nenek merindukanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"De—demi peri pohon oak, kau sudah gila, Zaval—rrr?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Za—Zavala?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kakak pulang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bakat menggoda perempuan polos."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“HEH!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“A-aku— …tidak bisa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Senior Artoiiiiiiis!”&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba semuanya terasa sangat ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya tampak kabur pada awalnya, dan sinar matahari terlalu silau untukku. Kukerjapkan mata sekali, kemudian mengangkat lengan untuk menghalangi sinar matahari yang menghujam mata. Sisa-sisa pusing masih membekas di kepala, apalagi akibat benturan terakhir ketika pesawatnya menukik nista langsung menuju lautan lepas. Agaknya pesawat itu langsung menabrak batu karang besar, lalu setelah itu guncangan, samar, bau anyir menguar disekitar, darah mengucur, lalu… Gelap?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengganti posisiku yang sedari tadi terlentang pasrah, duduk bersila, lalu memandang keadaan disekelilingku. Err… Aku tidak tahu pasti dimana posisiku sekarang—aku buta arah, masih seperti dulu—dan tempatnya sangat asing. Aku mengangkat alis, kemudian memandang telapak tanganku; hei, aku bersumpah dapat melihat kakiku yang bersila samar-samar melalui telapak tangan, dan hamparan pasir dibalik kakiku juga terlihat samar—gila. Aku terbelalak, nyaris tidak percaya, aku mengucek mata pelan, lalu kembali memandang kakiku. Sama saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku panik sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menelan ludah, aku segera berlari ke garis pantai, membuka mata selebar mungkin, mencari refleksiku di permukaan kanvas aquamarine bening yang terhampar luas itu. Tidak ada. Aku memandang kebelakang, mencari sebentuk bayangan gelap yang selama ini setia menempeliku. Tidak ada juga. Err, artinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—aku mati. Ha?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tiba-tiba serombongan orang melewatiku sembari tertawa-tawa—menembusku begitu saja. Aku berusaha menarik nafas, namun dadaku sakit. Dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku takut. Sangat takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"747-200 Alitalia Airlines dari Inggris dengan tujuan Venezia jatuh, bangkai pesawat belum ditemukan; dipastikan semua penumpang meninggal."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memandang tanpa nafsu headline koran yang terpampang di salah satu stand loper koran yang kulewati; betapa mirisnya—aku sedang gentayangan, jadi arwah penasaran gara-gara pesawat tolol itu ditabrak benda-tak-dikenal lalu dengan kerennya bermanuver, menabrak batu karang, dan aku melihat headline koran dimana dalam peristiwa itu aku mati. Rasanya lebih sakit dibanding setelah peristiwa kelabu dulu, sungguh. Aku pernah nyaris mati dua kali dan sekarang sudah mati, setelah percobaan ketiga. Yeah, aku memang bukan kucing yang konon memiliki sembilan nyawa. Punya dua nyawa ekstra saja seharusnya aku sudah bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang… Aku harusnya kemana, ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merutuk dalam hati, aku menggaruk belakang kepalaku, sementara dalam kepalaku muncul macam-macam ekspektasi aneh—misalnya sebenarnya aku masih gentayangan karena aku ditendang lagi dari Surga karena tidak pantas disana, lalu aku juga tidak diterima Neraka karena aku tidak begitu jahat; atau sebenarnya aku masih diberi kesempatan hidup dan tubuhku masih tergeletak entah dimana, tertidur agak panjang, menungguku yang sedang jalan-jalan ini pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sih berharap yang kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghela nafas—err, aku sih maunya begitu, tapi berhubung tidak bisa, ya…—aku berusaha menendang kaleng coca-cola, yang tentu saja tidak berhasil, kalengnya malah melewati kakiku begitu saja—tembus. Tsche. Rupanya banyak hal yang tidak bisa dilakukan oleh hantu, no? Terkadang menyebalkan ketika ingin melakukan sesuatu untuk melampiaskan emosi yang tertumpuk di kepala tapi tidak bisa karena tembus begitu saja; tapi enaknya, aku bisa berlenggang kakung seenak jidat seakan jalanan semuanya milik nenek moyangku tanpa peduli apapun—toh kau tidak kelihatan dan tidak bisa disentuh; tidak bisa menabrak orang, tidak bisa tertabrak mobil, juga tidak terlihat ketika melakukan hal memalukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi disisi lain, mati itu terasa… Hampa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil-mobil dengan bendera dukacita melintas di depanku, menampakkan sekelebat wajah yang kukenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian apa kabar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kotak kecil diletakkan, dikubur dalam tanah, lalu sebentuk nisan dipasang begitu saja. Namanya terbaca jelas dari tempatku berdiam sekarang—Zavala Casanova Artois—yeah, namaku. Sedikit sesak juga ketika melihat yang dikuburkan hanya sebentuk kalung yang dulu sering kupakai—semacam kalung keberuntungan—yang tanpa sengaja kutinggalkan di rumah alih-alih tubuhku. Yeah, memang letak mayatku itu entah ada dimana di sudut Bumi ini, kompleks perumahan milik Tuhan terlalu luas, Bumi ini. Mayatku bisa saja sudah tersangkut di karang atau sedang terbawa arus ke Australia. Pfft.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terduduk di bawah pohon, mengawasi daerah sekitar makam yang berangsur-angsur sepi, hingga yang tersisa hanya sebentuk eksistensi seekor kucing—Fa, seekor peliharaan terbaik sedunia setelah Sox—memandangi nisanku dengan ekspresi tak tertebak. Beberapa menit kemudian Vienna membawanya pergi begitu saja. Sebentuk senyum terpaksa terbentuk di wajahku, antara ingin menertawakan penampilannya yang berantakan saat itu atau terharu karena dia menangis sepanjang waktu. Menangisi sak tinjunya selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bercanda. Aku tahu sebenarnya dia sayang padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;small&gt;“Papa, Papa! Coba lihat ini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Astaganaga, Chester! Dimana kau menemukannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu Papa, ada seseorang yang tergeletak disitu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hm?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia kenapa Papa? Apa dia sudah mati?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tubuhnya masih hangat, Gwynne; dan sepertinya masih bernafas. Coba minta Mama panggilkan ambulans.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Astaga, Edward! Anak siapa itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah Jane. Panggil ambulans dulu.”&lt;/small&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Fa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunduk, menatap kucing putih dengan aksen oranye yang sedang menggeliat diatas tanah makam, yang tadi sempat berbicara miris dengan menyebutkan namaku. Hell yeah, aku merasa punya hubungan batin dengan anak Sox ini. Dan tadi apa? Dia bilang Sox mati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, ini makamku, ya?” aku tergelak, berusaha memecahkan keheningan janggal diantara kami. Dia tampak kaget aku—dalam bentuk arwah yang setengah mengapung—ada dihadapannya, sepertinya; “Rasanya aneh melihat makam ini, sungguh. Tidak percaya rasanya aku sudah mati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Konyol.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahaha, aku tahu konyol, Fa. Tapi entah kenapa selama 40 hari ini aku merasakan secercah cahaya bahwa aku masih hidup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmph, aku pasti terdengar konyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngomong-ngomong, itu…” aku mengerling singkat ke arah kapel yang tidak begitu jauh dari makam yang sedang aku duduki, menunjukkan tanpa antusiasme, “Sedang ada misa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untukmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Err, sudah 40 hari semenjak aku pergi, no? Tadi hanya estimasi saat aku bicara pada Fa. Selama luntang-lantung dalam bentuk arwah, aku sama sekali tidak tahu tanggal dan waktu, jujur saja. Aku menutup mata pelan, samar-samar menangkap nyanyian sakral dengan nada mendayu menyayat hati berkumandang dari bangunan itu, terdengar cocok dengan rintik hujan yang sedari tadi tidak mereda. Beberapa menit kemudian lagunya berhenti, pintu terbuka dan payung terkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ups, aku harus pergi, Fa. Dadah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, mataku terbuka di tempat yang tidak dikenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Papa! Dia sudah bangun!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekikan anak sopran cempreng terdengar di dekatku, membuatku memandang berkeliling ruangan dengan bingung. Ruangannya serba putih dan tampak dingin. Aku baru sadar kepalaku disangga bantal yang lumayan empuk dan tubuhku terbaring tak berdaya di tempat tidur yang agak keras—khas rumah sakit—dan di tanganku terpasang berbagai macam selang; belum lagi kepalaku yang terbebat rapi, membuatnya berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa namamu, nak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Err… Aku…” kosong, pikiranku benar-benar terasa blank, dark. Semua memori yang ada di dalam otakku terasa seperti baru saja teracak-acak, arsip memorinya terasa berantakan. Tidak. Aku menutup mata erat-erat, kepalaku pening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa. Kau luka parah. Aku tidak heran jika kau amnesia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amnesia? Aku mengerenyitkan dahi. Tidak, aku tidak amnesia. Namaku… Za—Zavala?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Za—Zavala,” aku berujar lirih. “Zavala Casanova Artois.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hidup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“SUDAH KUBILANG, KAN?! SENIOR ARTOIS TIDAK MUNGKIN MATI SECEPAT ITU!” pekikan bahagia terlontar dari bibir Snowden ketika melihatku bersender di salah satu tiang di peron 9 ¾, menunggu Hogwarts Express dari kastil tua itu kembali ke King Cross. Beberapa orang langsung berhamburan ke arahku, setengah tidak percaya aku masih hidup, setelah berita kematianku yang mereka terima beberapa bulan lalu. Yah—mereka juga tahu dariku sih, aku ternyata masih diijinkan hidup; setelah surat yang kukirim untuk mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya bisa nyengir lebar ketika mereka menubrukku, termasuk beberapa senior dan teman seangkatan yang ikut datang ke stasiun itu. Senior Vygotzsky mengacak rambutku, senior Napoleon dan Lovecraft menebar-nebar confetti. Mereka… Selalu saja seperti itu. Masih seperti dulu eh, saat aku masih bocah kecil ingusan yang payah dan hanya bisa membuat tim kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan satu hal yang tak kuduga—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—Agatheness memelukku dan menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku pulang, semua.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5581144060124134777-7729829286865334858?l=casanovartois.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://casanovartois.blogspot.com/feeds/7729829286865334858/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/10/fic-memento-mori-part-3-end.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/7729829286865334858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/7729829286865334858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/10/fic-memento-mori-part-3-end.html' title='[Fic] Memento Mori - Part 3; The End.'/><author><name>Artois.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03148100767738575209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5581144060124134777.post-2722038214302615854</id><published>2009-10-15T05:15:00.000-07:00</published><updated>2009-10-15T05:16:31.319-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artois'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='death'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fic'/><title type='text'>[Fic] Memento Mori - Part 2; Fa's PoV</title><content type='html'>Katanya, Tuan Zavala mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatapanku mendongak kosong ke makam yang terpasang kokoh di depanku, sedikit miris melihat nama majikanku terpahat di nisan kelabu—Zavala Casanova Artois, begitu bunyi tulisannya. Hidupnya memang pendek, tuanku itu, namun aku cukup tahu dalam jangka waktu sependek itu dia memiliki banyak hal istimewa—semua orang yang berlalu-lalang disekitar makam ini sejak tadi membuatku bergidik. Semuanya berbaju hitam dan menangisi kepergian tuanku itu; bahkan ada yang terdiam lama dan berbicara sembari memandang langit, berusaha kuat menahan air mata yang sudah sampai di batas pelupuknya, belum lagi memaksa untuk tersenyum timpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, tuan; kau bahkan belum menginjak usia 18 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menoleh dengan rasa penasaran ketika dua orang ibu-ibu sedang berbisik di dekat makam—cukup familiar; mungkin itu teman-teman ibunya tuan Zavala yang secara rutin datang ke rumah untuk mengocok sesuatu dan makan-makan. Haiyah, kalau kalian berbisik bukan berarti semuanya tidak mendengar, nyonya; aku cukup peka untuk mendengar apa yang kalian bicarakan. Dasar ibu-ibu memang tukang cari sensasi—batinku terbeliak ketika mengetahui mereka membicarakan tuanku yang bahkan sudah tidak bernafas lagi. Burung besi sialan itu merengutnya, menenggelamkannya ke kanvas aquamarine transparan, tempat mayatnya beristirahat jauh di laut sana—aku berjanji suatu hari aku akan mencari si burung jelek itu dan mencabiknya. Brengsek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku naik ke atas gundukan tanah makam yang masih segar, mengacak taburan bunga yang masih basah diatasnya. Tidak ada tubuh tuan Zavala disini; untuk apa mereka menangisinya disini dan bukannya mencari tubuh tuanku, para manusia aneh itu. Bahkan ada beberapa orang yang pergi dari London untuk menghadiri misa requiem-nya. Padahalkan dia tidak ada disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fa?” lirihan kecil memanggilku; suara Vienna. Aku menoleh; matanya sembab dan gaun hitam yang begitu cocok dilekuk tubuhnya begitu lecek—seumur-umur, baru kali ini aku melihat penampilan Vienn dekil, sungguh. Dia selalu tampak cantik dari waktu-ke-waktu, perfeksionis. Bahkan rambut pirangnya—dulu warnanya burgundi dan dia mengecatnya—terurai berantakan, tidak terikat rapi. “Ayo pulang…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berhasil kabur, dia sudah menarikku dalam dekapannya, butiran chesnutnya memandang makam tuanku sendu sekali lagi, lalu berbalik, kembali menahan air mata agar tidak mengalir ke pipinya. Kugesekkan kepala pelan ke dagunya, lalu mengeong sekali. Oh well, aku tidak yakin sih dia mengerti maksudku, namun melihatnya tersenyum kecil pun aku merasa sedikit lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat kaki putihku mendarat luwes di bebatuan kusam. Tepat di depan nisan yang sama, masih milik tuanku. Sejujurnya aku tidak rela dia mati secepat ini—hei, hanya dia yang cukup mengerti jalan pikiranku. Satu-satunya manusia yang secara garis besar mengerti apa yang ingin kukatakan walau hanya dari dengkuran atau suara ‘meong’ yang sebenarnya aku benci. Betapa curangnya Dia-Yang-Maha-Sempurna, menciptakanku hanya dengan suara dengkuran dan ‘meong’ yang terkadang membuat aku diusir dari satu tempat karena dianggap mengganggu, sementara manusia dengan asyik bisa berbicara lancar dan luwes dengan lidah mereka yang standar. Suara mereka pun bagus, aku pernah mendengar sekumpulan manusia bernyanyi ketika aku melewati bangunan putih yang sederhana namun terlihat megah dan aura menenangkan—namanya gereja, kalau tidak salah ingat. Tapi aku bersyukur tuan Zavala pernah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu cepat dia diambil kembali, tiga tahun bersamanya sangat menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali memanjat ke atas makam, lalu merebahkan tubuhku diatas gundukan tanah yang menutup makam semu milik tuanku itu. Yang dikuburkan di dalamnya hanya kalung yang dulu sering dipakainya. Entah dia sudah tahu bahwa dia akan menghilang dan meninggalkannya sebagai penanda, ataukah karena kalung itu tidak dipakainya, rantai kehidupannya putus tepat diatas laut yang menjadi tempat peristirahatan abadinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memusingkan. Seekor kucing sepertiku sepertinya tidak pantas berpikir secara logika layaknya manusia. Aku menguap kecil, merenggangkan tubuhku, lalu tertidur di tanah empuk itu. Aih, jarakku dengan penanda terakhir tuanku tak lebih dari tiga meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah 40 hari terhitung dari tanggal 1 September—tanggal dimana tuan Zavala dinyatakan mati, dan langit sekarang menangisi tanggal dimana arwah tuanku itu sedang melanjutkan langkahnya dari dunia ke tempat yang lebih baik diatas sana. Tempat Dia-Yang-Maha-Sempurna berdiam, istananya sementara kotanya begitu besar terbentang di Bumi buatannya. Aku menggerakan tubuhku, mengibaskan bulu putih dengan aksen oranye yang sudah mulai lepek dan saling menempel karena tangisan langit yang tidak berhenti menyapa tanah semenjak tadi. Semua manusia yang 40 hari yang lalu datang ke makam tuanku sedang mengadakan misa di kapel yang ada di komplek pemakaman ini, sementara aku sendirian duduk disini—di muka makamnya yang sudah basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuan, aku kangen.” namun hanya suara ‘meong’ lirih yang keluar, miris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Vienna selalu menangisimu sepanjang malam dan Nathan tidak pernah memasak lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam, merutuki diriku sendiri yang tidak bisa berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah mati. Beberapa hari kemudian ibu menyusul. Disana ada Surga untuk kucing tidak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tetes hujan jatuh dipelupuk mataku, mengalir ke bawah dengan cepat, terserap buluku beberapa detik kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serak basah yang familiar terdengar, lirih dan miris. Aish, delusi. Aku cukup yakin itu suara tuan Zavala, tapi dia kan sudah mati. Aku mendongak memandang nisannya, entah kenapa sedikit berharap tulisan itu luntur ataupun tidak pernah ada. Aku terbelalak ketika melihat sebentuk bayangan nyaris tembus pandang terpampang di hadapanku, terduduk di atas nisan dengan sengiran terpatri di wajahnya. Familiar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Zavala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, ini makamku, ya?” dia tergelak, menunjuk makamnya sendiri. “Rasanya aneh melihat makam ini, sungguh. Tidak percaya rasanya aku sudah mati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Konyol.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahaha, aku tahu konyol, Fa. Tapi entah kenapa selama 40 hari ini aku merasakan secercah cahaya bahwa aku masih hidup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, brengsek. Arwah tuanku yang masih gentayangan tiba-tiba datang dan bilang bahwa setengah dari dirinya masih hidup. Goblok. Kenapa harus bilang begitu? Itu hanya membangkitkan harapan kosong bahwa dia masih bisa ada disampingku lagi. Sial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngomong-ngomong, itu…” dia menunjuk kapel, “Sedang ada misa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untukmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia terdiam, memandang kosong ke arah kapel itu dengan tatapan sedikit miris. Beberapa detik kemudian pintunya menjeblak terbuka, dan kerumunan orang berbaju hitam melangkah keluar satu-persatu. Payung-payung terkembang beberapa detik kemudian, berusaha menepis tangisan si langit yang tak kunjung reda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ups, aku harus pergi, Fa. Dadah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeah, dah, tuan. Sampai bertemu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa detik kemudian, tangisan langit mereda perlahan, menampakkan sedikit sinar matahari dibalik awan bekas hujan. Dan sebentuk lengkungan spektrum tujuh warna terbentuk disana. Ah ya, dan langit pun tersenyum mengantarnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5581144060124134777-2722038214302615854?l=casanovartois.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://casanovartois.blogspot.com/feeds/2722038214302615854/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/10/fic-memento-mori-part-2-fas-pov.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/2722038214302615854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/2722038214302615854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/10/fic-memento-mori-part-2-fas-pov.html' title='[Fic] Memento Mori - Part 2; Fa&apos;s PoV'/><author><name>Artois.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03148100767738575209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5581144060124134777.post-5590696091873601058</id><published>2009-10-15T05:13:00.000-07:00</published><updated>2009-10-15T05:15:13.157-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ravenclaw'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artois'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='death'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agatheness'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='qualfrey'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='memories'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fic'/><title type='text'>[Fic] Memento Mori - Part 1</title><content type='html'>"Zavalaaaaa!” teriakan familiar berkumandang di sepanjang lorong, membuatku merapatkan selimutku lebih rapat lagi—aku pasti tampak seperti kepompong gagal sekarang. Detik berikutnya, pintu hitam yang menjadi satu-satunya jalan masuk dan keluar dari ruangan persegi berantakan yang sudah kutempati seumur hidupku menjeblak terbuka, menampakkan sesosok gadis berambut pirang—Vienn; penampilannya sungguh membuatku tercengang beberapa bulan lalu ketika aku pulang ke rumah setelah menamatkan pendidikanku di sekolah itu. Yeah; dia mengecat rambut panjang burgundinya menjadi pirang, the hell—tampak sedikit lebih feminim, memang, tapi tidak dengan tingkat kebengisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“BANGUN!” tendangan keras terlayang ke punggungku, membuatku dengan pasrah terdorong jatuh, berbenturan dengan lantai yang keras dan dingin. Cih, barbar. Aku tidak percaya setelah tujuh tahun aku pergi dari rumah, aku akhirnya merasakan rutinitas yang sama seperti sebelum surat dari sekolah itu datang dan mengantarkanku pada rangkaian peristiwa-peristiwa yang belum pernah kurasakan di sekolah biasa. Yeah, sekolah itu memang sekolah yang berbeda dengan sekolah tempat aku belajar dulu sekali. Hogwarts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“HEEEEEEEEI!” jitakan terlayang ganas ke kepalaku, membuatku tersadar dari lamunanku, “Kata Mom hari ini kau akan ke London?! Kenapa masih bengong saja, sih? Cepat dong siap-siaaaap!” rentetan omelan berkoar dari bibir Vienn, membuatku sedikit bingung. Kupandangi kalender dengan tampang bingung, ingin memastikan tanggal hari ini—entah kenapa hari berjalan cepat akhir-akhir ini; mungkin karena sudah tidak ada yang aku tunggu lagi, hm? Benar saja kata Vienn. 30 Agustus. Tanggal keberangkatan yang tertera di tiket yang tersimpan rapi di tas postman bag-ku. “Masih bengong jugaaa?! Ayo cepat siap-siap! Jangan sampai ketinggalan pesawat. Kau pikir tiket pesawat murah?” bentakan lagi, dan aku langsung ngacir ke kamar mandi—sebelum ada apapun yang menjitak atau bahkan membunuhku karena aku terlihat lambat di mata Vienn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ah ya—aku sebenarnya bertanya-tanya pada diriku sendiri kenapa aku memilih untuk naik pesawat saja dan bukannya ber-apparate, padahal aku sudah cukup menguasai skill itu sekarang dan tidak meninggalkan satu bola mata atau kaki kiriku di tempat asalnya. Semua salah Mom, ngomong-ngomong, yang tidak mengijinkan anak ketiganya untuk ber-apparate karena rasa takutnya setelah Dad bercerita tentang kasus-kasus menyedihkan yang terjadi saat apparate. Jadi ini juga salah Dad. Aku menghela nafas malas, sekali lagi memandang refleksiku di cermin. Masih sama seperti setahun lalu—rambut coklat jabrik, mata coklat dengan tatapan tajam malas, dan bibir tipis serta kulit kecoklatan. Masih kurus dan bertampang menyedihkan. Sekali lagi mencoba menyisir rambut pendek kecoklatan yang tidak bisa diatur itu sampai akhirnya menyerah, aku melempar sisir kembali ke tempatnya, segera keluar dari kamar mandi. Jam 9.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyambar postman bag dekil yang sudah kupakai selama lebih dari tujuh tahun, aku segera melangkah keluar kamar; antara sedikit terburu-buru dan tidak mau disepak olehVienn. Dia selalu tepat waktu dan rapi, dan sepertinya malu karena aku yang notabene adiknya itu dekil, berantakan dan jam karet.&lt;br /&gt;“Pagi semua…” ujarku malas, memandang singkat satu-persatu entitas yang ada di ruang makan. Dad dengan Daily Prophet-nya, Mom dengan tumpukan majalah fashionnya, Vienn dengan telepon di salah satu dinding ruang makan, Nate dengan peralatan dapurnya. Sebuah sengiran terpeta di bibirku—pagi yang biasa. Dad mengangkat kepalanya dari korannya, mengangguk lalu kembali berpaling, menekuni koran yang bergerak-gerak itu. Mom tersenyum dan melambaikan tangannya, Vienn hanya memandang sejenak lalu kembali bercuap-cuap di telepon, pintu dapur menjeblak terbuka dengan Nate dan piring-piring yang menguarkan wangi enak. Aku melangkah masuk, lalu langsung mendudukan diriku di kursi yang masih kosong, menatap piring dengan sosis dan garlic bread diatasnya—pfft, setelah sekian tahun, Nate sudah berhasil mewarisi keterampilan memasak Nenek, hm?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari ini pesawatmu berangkat jam berapa, boy?” suara berat membuka percakapan, membuat tatapanku teralih dari sarapanku; alisku terangkat sedikit, nyaris tidak percaya Dad bertanya hal yang menurutku tidak penting untuknya. Tumben.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“13.00,” jawabku singkat, lalu mulai menusuk-nusuk garlic bread buatan Nate, memasukkan ke mulut, mengunyah, menelan. “Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dad antar, ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Hati-hati dijalan, mio caro!” Mom melambai-lambai ke arahku, sedikit sesenggukan, pffft, seakan-akan aku akan mati besok saja. Aku berpaling menatapnya, menyunggingkan sebentuk senyum; semoga bisa memenangkan hatinya, batinku. Sejak aku kabur dari rumah dulu, Mom memang jadi sering lebay terhadapku. Aku sempat mengerling melihat Dad yang hanya terdiam, bersender di tembok ruang tunggu sementara aku berbalik untuk melanjutkan langkahku; tepat ketika seruan familiar kembali terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cepat pulang ya kaaak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hati-hati di jalan, dekil. Jangan bikin malu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okeee, kenapa semua terdengar berkata seakan aku akan mati besok, ha? Mengangkat bahu tidak kentara, aku mengangkat tanganku, mengacungkan jempol pada kedua saudara sedarahku itu sembari melanjutkan langkah yang sempat terhenti tadi. Pada akhirnya semua berebut mengantarku ke bandara, sampai akhirnya Dad memutuskan semuanya ikut pergi, astaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya aku tahu mereka sayang padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Hei, kakak;” Aku meletakkan sepiring bacon dan kentang goreng di hadapan seorang gadis yang usianya terpaut sekitar setahun diatasku, lalu duduk dihadapannya, “Lama tidak ketemu, eh?” imbuhku, mencomot satu bacon dari piring. Rasanya memang janggal memanggilnya kakak; tapi well, kakaknya memang kakak iparku alias suami kakakku—yeah, sebenarnya aku juga masih heran pada kakak tertuaku; pertamanya aku menganggapnya mati karena kejadian tolol dulu sekali, namun tiba-tiba dia kembali begitu saja, sudah punya calon istri, pula—yeah, Gretha Qualfrey. Dan secara teknis, adiknya, Gloria Qualfrey, adalah kakakku juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeah, kabarmu baik?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cukup baik. Sendirinya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“So-so. Kau tidak bohong lagi, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tergelak. Cih, rupanya dia masih ingat kejadian di tangga beberapa tahun lalu itu. Terkadang mantan prefek Ravenclaw dihadapannya itu memang bisa membaca jalan pikiran atau keadaan orang lain, mungkin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu tidak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehm, bagaimana dengan… Siapa namanya? Agatheness?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasa saja. Maunya sih nanti siang ke King Cross untuk mengantarnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeah, tujuan utamaku ke London memang itu. Selain untuk temu kangen dengan beberapa rekan lama dan bernostalgia—cih, padahal baru tiga bulan, namun rasanya ingin sekali kembali ke sekolah itu dan belajar lagi; jujur saja, aku masih cinta mati dengan Danau Hitam yang entah kenapa selalu menjadi tempat terbaik di sekolah itu, atau ruang rekreasi dengan bulan purnama, atau Pesta Akhir Tahun dengan segala kegilaannya—sesuatu yang pantas dirindukan, sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, kamomil. Aku tidak pernah bisa berhenti jatuh cinta padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ah ya, selamat datang di King Cross. Aku mengerling sejenak ke jam besar yang terpampang di salah satu pilar tua stasiun itu—sedikit lagi fragmen kenangan lewat di depan mataku, menampilkan grayscale film kilat yang menampilkan aku-versi-bocah yang sedang mendorong troli yang berisi koper besar, berlali seakan dikejar setan, berkali-kali menatap jam yang sama, memastikan aku tidak terlambat naik kereta karena kebiasaan burukku. Aku yakin Vienn akan memaki-maki dengan semangat jika dia tahu bahwa kejadian seperti itu pernah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“A—Artois…” sebuah lirihan terlantun disebelahku, membuatku tersadar dari lamunan panjang tentang masa lalu yang konyol itu. Suara yang familiar, wangi yang familiar, sosok yang sangat familiar. Ylva Agatheness—yeah, kamomil yang entah kenapa kucintai setengah mati. Aku melirik malas ke sampingnya, mendapati sesosok bodyguard yang pernah mendeklarasikan bahwa dia akan menjaga Agatheness selamanya itu berdiri kaku dengan angkuh di samping si kamomil, menatap dengan tatapan galak penuh selidik ke arahku. Yep, dia-yang-namanya-sering-terlirih-dari-bibir-Agatheness. Bikin iri, memang. Tapi apalah arti seorang Zavala Artois dibandingkan dengan Salisverre Gilchrist?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yo, Agatheness;” ujarku, berusaha memasang sengiran setulus mungkin, berusaha mengacuhkan si Gilchrist itu, “Apa kabar kalian, junior?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Euh, rasanya sekarang junior tidak enak diucapkan, setelah beberapa bulan lalu kau resmi lulus dari sekolah itu, rasanya tidak enak masih memanggil kenalan yang masih bersekolah disana dengan sebutan junior. Dan dipanggil senior, err?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik, se—sendirinya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cukup baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu diam lagi, selalu begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Well, kita ke peron 9 ¾ saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa berkata apa-apa lagi, aku memasukkan tangan ke saku celana jeansku, lalu melangkah di depan kedua orang yang berjalan berdampingnya menyusulku—yaah, cinta bertepuk sebelah tangan memang menyedihkan. Aku menatap satu-persatu plang peron, mencari yang bernomor sembilan, lalu tanpa basa-basi melangkah menembus pilar antara peron sembilan dan sepuluh. Ah, rasanya sedikit janggal kalau tidak membawa troli besar seperti dulu, ya? Aku mengerling sejenak ke belakang, memastikan dua junior itu masih ada dibelakangku—ah, tidak; lebih tepat dibilang ingin melihat Agatheness.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keramaian yang sama. Sepilas-sepilas wajah familiar. Mereka yang pernah disebut junior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Senior Artoiiiiiss!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, ya, saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari-cari asal suara dengan tampang cengo—hella good, ada juga yang tahu dan mengenalku bahkan memanggil disini; kupikir semuanya sudah lupa. Tiga bulan itu lumayan panjang untuk melupakan orang yang hanya kau kenal-sambil-lalu, toh? Er, tapi pemilik suara cempreng itu bukan seorang kenalan-sambil-lalu, sih. Yeah, Shine Snowden. Teman seasrama, teman setim, bekas junior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yoo, Snowden;” Aku menepuk kepalanya pelan ketika dia berlari menghampiriku dan menubrukku dengan semangat. Salah satu chaser terbaik Ravenclaw, selain dua entitas yang tidak kalah keren itu; aku akan menceritakan mereka nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lihat siapa disana. Thanatos. Harue. Windstroke—tidak lupa Ragnavald disampingnya. Swan. Hylhymn, Yaroslav. —mantan junior, banyak mantan junior, sangat banyak mantan junior. Mayoritas memang tidak begitu kukenal, namun beberapa nama yang sudah terlintas dipikiranku tadi bisa dibilang teman; setidaknya derajatnya satu tingkat diatas mereka yang hanya bisa disebut kenalan, no?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentuk senyum tersungging ketika dia menghampiri mereka—Thanatos, Harue dan Swan yang sedang asyik berbicara soal Quidditch; mereka berdua Chaser yang hebat, sangat malahan, Thanatos dan Harue itu. Sejak mereka masuk tim, semangat tim yang dulunya leye-leye jadi terdongkrak, natural born chaser, suer deh. Swan juga beater yang keren. Windstroke si gagu dengan Ragnavald sedang berdiri agak kepojok, bergandengan tangan dengan mesra—ciakaka, aku cukup yakin Ragnavald akan merindukan Windstroke selama setahunan ini. Hylhymn dengan urusannya sendiri sempat melambai sejenak padaku, menanyakan kabarku namun sudah terseret pergi sebelum aku berhasil meresponnya. Yaroslav hanya diam, ketika aku melempar seulas senyum padanya—dia… Yang jantungnya milik Gevanni, kan? Yah, senior keren itu punya tempat di memorinya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahoy, chaser keren masa depan…” celetukku, merangkul Thanatos dan Harue, “Bagaimana? Quidditch masih seru?” imbuhku, mengingat selama setengah tahun belakangan aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di lapangan karena penyakitku kambuh dan kembali terbaring di Hospital Wing dengan iring-iringan ceramahan Madam Pomfrey. Aku sama sekali tidak bertemu mereka begitu lulus; seakan hilang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seru banget, senior.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Thanatos mainnya bagus! Memang dari dulu, sih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harue juga jago.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah—kalian berdua keren, sungguh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengacak rambut mereka pelan—memang tindakan yang kurang pantas mengingat mereka sudah menjejak umur 16 tahun; peduli amat, buatku mereka masih bocah kecil yang sama, haha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau juga, Snowden,” imbuhku, menepuk puncak kepalanya sekali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghela nafas ketika pandanganku teralih ke kereta merah yang sedang berdiri kaku di relnya, mengepulkan asap. Hm… Kereta tua yang sama; Zavala masih hafal jelas letaknya, gerbong dua kompartemen delapan. Ah ya, mereka semua. Gevanni, Winter, Sieghart adegan sinetron Lapin dan Heigl—pokoknya ramai—ada dementor, death eaters dan semuanya. Terkadang aku masih bersyukur masih bernafas sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, nah, sudah mau jam sebelas. Sana semuanya naik kereta.” ujarku tanggung, nyaris tidak rela untuk melangkah keluar stasiun dan bukannya naik ke kereta itu dan pergi ke Hogwarts lagi—padahal tempat itu sebegitu menyenangkan; tujuh tahun yang keren. Penuh memori, terekam dalam setiap batu yang membangun tembok dan lantai sekolah itu, tangga-tangga penuh misteri, tetesan air hujan, danau, bahkan toilet; asrama biru dengan lambang elang setengah gagak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi tersenyum pada mereka, aku melangkah mundur, termangu. Dan keretanya berangkat begitu saja; para ibu-ibu menangis haru mengantarkan anak-anak mereka, melambai-lambai, mengiringi anaknya yang melangkah menjauh dengan bisikan-bisikan doa. Ah, semoga mereka beruntung tahun ini—semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Oke, aku pulang dulu, kak;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hati-hati di jalan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyengir kecil pada partner-in-crime semasa sekolah merangkap saudara jauhku, aku mengayunkan kaki malas, nyaris tidak ingin pergi. Tahun depan harus kesini lagi; aku mengucapkan janji pada diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Penumpang, ini kapten berbicara. Sisi kapal kita tertabrak benda asing dan kita harus melakukan pendaratan darurat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bzz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepalaku berputar-putar, sungguh. Aku menutup mata, mencoba mengabaikan guncangan tidak enak yang membuat sekujur tubuhku sakit, perutku mual, ah, pokoknya amat sangat tidak enak, tch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pe… bzzzt… pang… Ha… bzzt…p…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak bisa mengingat apapun. Sumpah, seluruh tubuhku mati rasa. Aku merasa akan mati sebentar lagi. Pesawat itu menukik ke bawah, membuatku terhempas ke belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BRAK!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;big&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;"747-200 Alitalia Airlines dari Inggris dengan tujuan Venezia jatuh, bangkai pesawat belum ditemukan; dipastikan semua penumpang meninggal."&lt;/span&gt;&lt;/big&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5581144060124134777-5590696091873601058?l=casanovartois.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://casanovartois.blogspot.com/feeds/5590696091873601058/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/10/fic-memento-mori-part-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/5590696091873601058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/5590696091873601058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/10/fic-memento-mori-part-1.html' title='[Fic] Memento Mori - Part 1'/><author><name>Artois.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03148100767738575209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5581144060124134777.post-9036095494713304010</id><published>2009-10-07T01:42:00.000-07:00</published><updated>2009-10-07T01:44:17.554-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='moonlight'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='asrama ravenclaw'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artois'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bulan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agatheness'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1983'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='voiceless'/><title type='text'>1983; Voiceless</title><content type='html'>Mimpi buruk. &lt;em&gt;Sangat&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zavala merasakannya; keberadaan anak manusia lain di ruangan luas itu; kamomil. Kedua butir chesnutnya masih tertutup rapat-rapat, mencoba memberi impresi bahwa dia masih terlelap; menajamkan pendengaran dan insting akan pergerakan di sekitarnya; mengatur nafas setenang mungkin—jelas; cucu hawa beraroma kamomil itu jelas dikenal oleh bujang tanggung itu—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;small&gt;"Kau punya bakat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butir chesnut Zavala mengerling lambat, memandang sesosok cucu hawa yang sedang &lt;em&gt;selonjoran&lt;/em&gt; di dekatnya; antara bingung dan tertarik dengan topik baru yang tiba-tiba disebutkan oleh teman seangkatannya itu. Alis bujang tanggung itu terangkat sedikit, menunggu si lawan bicara melanjutkan kata-katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bakat menggoda perempuan polos."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hahaha. HAH?! Siapa?" &lt;em&gt;perempuan polos?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Agatheness, sepertinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hah? Menggoda maksudmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tentu mengerti maksudku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku jelas tidak menggodanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I—iya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, kau menggodanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"HAH? Demi apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Firasat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menggoda—seperti apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Membuatnya... menangis?" &lt;em&gt;Senyum kemenangan.&lt;/em&gt;&lt;/small&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;—bingo. Agatheness, Si perempuan polos menurut persepsi rekannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okeee, tidak perlu diingatkan berkali-kali, kan, bahwa Zavala pernah membuat nona serba hitam yang polos itu nyaris dua kali? Saat mereka pertama kali bertemu gadis itu nyaris menangis; saat bertemu sekali lagi dia sukses menitikkan air mata dari kedua maniknya yang unik itu; sehijau rumput dan sebiru langit—warna yang begitu kontras namun tampak cantik—setidaknya terlihat cocok bagi si bujang tanggung jika nona serba hitam itu yang memilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alis bocah Italia itu terangkat pelan ketika gadis itu kembali berbicara; seolah bercengkrama dengan orang lain yang ada di situ; walau jelas tidak ada entitas berlabel manusia di ruangan luas itu. Jelaslah bujang tanggung itu tahu si gadis berkata-kata pada siapa. Svarte, kan—boneka beruang lucu yang pernah &lt;em&gt;direbut&lt;/em&gt; Zavala ketika Pesta Akhir Tahun; boneka manis berwangi sama dengan pemiliknya—ah, kamomil, &lt;em&gt;kamomil&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa Zavala tidak bisa berhenti jatuh cinta pada wangi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keretak kecil bergema di hadapannya lirih, nyaris tak terdengar. Sinaran temaram api yang semakin lama semakin redup—api yang jelas tidak begitu diperlukan malam itu yang notabene kaya akan sinaran kaca besar pengiring Bumi yang memantulkan pancaran pusat tata surya yang sedang bersinar di belahan lain Bumi; di Asia, mungkin? Saat ini, rasanya bulan seperti &lt;em&gt;spotlight&lt;/em&gt;; tokoh utamanya jelas sosok ringkih yang masih mengagumi sinaran cerah yang menelisik masuk dari kaca-kaca transparan itu. Hm? Dan Zavala?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Antagonis&lt;/em&gt;, jelas. Penggoda gadis polos. HAHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuka kedua butiran chesnutnya diam-diam, berusaha agar kedua manik coklat beningnya tidak memantulkan kilatan api yang masih menari lesu di depannya, Zavala menelan ludah; masih berusaha mematung. Langkah-langkah mendekat mengecilkan jarak antara mereka berdua; lalu terhenti. Hening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serak basah terlantun; nyaris bersamaan dengan lirihan sopran melankolis yang mengatakan hal yang sama. Hening &lt;em&gt;lagi&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara si bocah Italia tertegun; tersembunyi dalam siluet malam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5581144060124134777-9036095494713304010?l=casanovartois.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://casanovartois.blogspot.com/feeds/9036095494713304010/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/10/mimpi-buruk.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/9036095494713304010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/9036095494713304010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/10/mimpi-buruk.html' title='1983; Voiceless'/><author><name>Artois.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03148100767738575209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5581144060124134777.post-9091639273321089707</id><published>2009-10-07T01:37:00.000-07:00</published><updated>2009-10-07T22:24:57.772-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='moonlight'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='asrama ravenclaw'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artois'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bulan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agatheness'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1983'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='voiceless'/><title type='text'>1983; Voiceless</title><content type='html'>Imaji. Mimpi. Emosi. Memori. Kenyataan. Sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;Moon don't tell me lies, don't let me roam forever.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mimpi membuat manusia jauh dari kenyataan, jadi kita harus menjauhi mimpi; itu yang pernah diungkapkan seseorang ketika sang bujang tanggung yang tengah terlelap terbungkus kesunyian disitu bercerita soal mimpinya, jauh di masa kecilnya. Mimpi membuat orang terbang; dan kalau terbang terlalu tinggi, rasanya sangat sakit kalau nanti terjatuh; begitu ungkap saudari sedarah si bocah ketika dia bertanya kenapa sang kakak tidak ingin bermimpi. Mimpi itu buruk, mimpi itu menakutkan. Begitu jawab satu-satunya adik yang dimiliki si lelaki Italia ketika si lelaki mendapati sang adik terbangun dari tidur malamnya. Orang yang terlalu banyak bermimpi itu bodoh; mereka tidak pernah dewasa; nasehat itu yang tertutur tegas dari bibir sang Ibunda ketika Zavala bertanya maksud frasa-frasa yang diungkapkan berbagai oknum yang dikenal si bocah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, mimpi itu &lt;em&gt;sampah&lt;/em&gt;, begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Moonlight take the sky, show me the way to heaven.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tubuh kurus si bujang tanggung berbalik pelan, secara refleks mencari posisi untuk terlelap yang lebih baik karena rasa sakit yang dirasakan tengkuknya semakin menjadi setiap detik-detik yang luruh dalam jatah waktu hidupnya. Tubuh kurus yang terbalut kaus putih seadanya itu terlihat kosong; tampak terlalu lelah untuk bergerak karena setiap titik usahanya beradaptasi dengan gaya kelas baru sementara sudah nyaris dua tahun dia absen dan menjadi tidak eksis dan terlupakan diantara teman-teman seangkatannya—sementara jiwa sang pemilik melayang dalam angannya untuk pergi ke bulan, terus melayang mengelilingi tata surya, tengggelam dalam bayang-bayang sang dewi malam yang bersemayam di hamparan beludru hitam luas, menjadi saksi bisu setiap tarikan dan hembusan nafas si bujang tanggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup itu melelahkan, brengsek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TRANGG!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denting besi-besi yang beradu menggema di seluruh ruangan temaram itu, chestnut Zavala terbuka hambar, kemudian selaput dan kelopaknya terkatup lagi, entah kembali dalam imaji mimpi yang terpapar indah dalam peta pikirannya atau terdiam dan berpura-pura tidak terbangun untuk mengawasi keadaan, atau setidaknya membiarkan si pembuat suara yang tampaknya sedang panik untuk pergi melarikan diri; well, Zavala sama sekali tidak terganggung kok; setidaknya, sepertinya untuk sekarang ini tubuh itu bahwa tidak berjiwa—dan pada hakikatnya alfa, mati sejenak; terbawa arus mimpi absurd yang tidak pernah diketahui akhirnya—kematian, kah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;I stay, I pray, I see you in heaven far away,&lt;br /&gt;I stay, I pray, I see you in heaven one day.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bohong kok, bocah Italia itu tidak mati; setidaknya... Belum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarikan nafas teratur seharusnya sudah cukup menjadi bukti bahwa tubuh itu masih hidup, kan, setidaknya raganya hidup, walaupun jiwanya terhapus sedikit demi sedikit, sementara eksistensinya mulai menghilang sampai akhirnya menjadi onggokan daging bernama, dan bisa melakukan kegiatan yang biasa dilakukan yang pada hakikatnya adalah manusia, namun si tumpukan daging tidak bisa disebut manusia; karena dia gagal. Sangat gagal. Dan terlalu berdosa sampai-sampai tidak diberikan kesempatan kedua untuk mencoba lagi; terlalu payah untuk mengembalikan eksistensi yang pernah hinggap dalam setiap orang yang ingat namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau terlalu idiot, bocah. Dan kau brengsek.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5581144060124134777-9091639273321089707?l=casanovartois.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://casanovartois.blogspot.com/feeds/9091639273321089707/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/10/1983-voiceless.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/9091639273321089707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/9091639273321089707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/10/1983-voiceless.html' title='1983; Voiceless'/><author><name>Artois.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03148100767738575209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5581144060124134777.post-4869102512347559348</id><published>2009-10-07T01:32:00.000-07:00</published><updated>2009-10-07T01:34:24.400-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artois'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='qualfrey'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1983'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='echo again'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='koridor dan tangga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='arcfond'/><title type='text'>1983; Echo Again</title><content type='html'>Oh—&lt;em&gt;ngomong-ngomong&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu hal yang baru disadari oleh Zavala. Rupanya pertanyaan retoris yang terlantun lemah dari bibir senior dihadapannya itu sungguhan. Disela-sela rasa menyesalnya tadi, sempat terdengar lantunan bernada bertanya—yang artinya cukup-cukup mirip dengan pertanyaan pertama; membuat si bocah Italia cukup kaget mendengarnya. Seorang Gloria Qualfrey yang pelit berbicara menanyakan hal yang mirip pada dia yang bukan siapa-siapa; menunjukkan keramahan yang sepertinya jarang diungkapkannya. Gabungan kata-kata How's ditambah your ditambah life lalu diberikan aksen '?' tampak seperti ilusi barusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ehm, hanya sedikit sok tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;"Kau salah makan? Lain kali periksa dulu kalau-kalau brokolinya ternyata sedikit berbau—"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan si bujang tanggung tergelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kenal dan secara tak sengaja bertemu secara kebetulan dengan cara tidak enak nyaris setiap tahun, bocah Italia itu barus tahu si prefek baru yang beberapa waktu silam ikut &lt;em&gt;berenang &lt;/em&gt;di danau dengan &lt;em&gt;bahagia&lt;/em&gt; itu bisa berbicara sepanjang itu dengan nada agak khawatir. Halusinasi? Atau yang duduk tak jauh darinya itu bukan senior Gloria Qualfrey yang selama ini dikenalnya? —diculik alien kah dia? Tak ada yang tahu. Butiran chestnut yang bersorot ngantuk secara tak sengaja bergulir ketika tergelak, secara tak sengaja juga menyadari keberadaan kaki yang berdiri gugup di dekatnnya. Menengadah pelan-pelan, sesosok junior masih terdiam disitu, menunggu jalannya dibukankan. Zavala sama sekali lupa disebelahnya ada seorang gadis yang sedang menangis sesenggukan dengan gaya anak kecil akan kehilangan neneknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan &lt;em&gt;ngomong-ngomong lagi,&lt;/em&gt; coklatnya ditolak. Gila, Zavala baru tahu ada yang menolak coklat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuih, lupakan maag jelek yang mengganggu lambungnya; dihadapannya ada masalah yang sedikit lebih berat dibanding terus-menerus memikirkan penyakit kambuhan karena kurang makan itu—lagipula ada coklat. Meringis goblok; si bujang tanggung tadi tertawa ketika si junior dengan muka kusut rambut kusut dan ekspresi kusut sedang menangis bombay, tingkah laku jelek yang tidak pernah bisa copot dari susunan milyaran sel otak si bocah penyandang nama Casanova itu. Tatapannya beralih dari junior bombay itu kembali ke prefek baru ketika lantunan yang berarti 'dia ingin coklat' berbunyi dari mulut si senior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;&lt;em&gt;“Perih.”&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lirihan kecil tertangkap gendang telinga Zavala ketika si gadis lewat—terlalu lirih; namun terdengar. Menghela nafas bersamaan dengan butiran chesnut yang berputar sinis, bujang tanggung itu menarik tangan si senior dan meletakkan sisa coklat—yang jelas masih banyak—yang dimakannya ketika menonton dua anak manusia berkromosom XX itu berdiam-diaman lalu yang lebih kecil kalah dan kabur—ngomong-ngomong sepertinya Zavala salah juga karena tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meninggalkan rasa bersalah dan membuat keinginan untuk menebusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semuanya untukmu. Hidup berjalan normal, ngomong-ngomong."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyerahkan coklatnya, Zavala berdiri, melangkahkan kaki-kaki jangkungnya menaiki tangga, mengejar langkah-langkah kecil yang sudah berlari menjauh, mengejar pemilik suara yang tadi melantunkan kata perih. Pandangan si bujang tanggung tertumbuk pada surai kecoklatan tak jauh di depannya, segera berlari mengejarnya; meraih tangan si gadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini begonya seorang Zavala Casanova Artois, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa menangis?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan bodoh. Sok perhatian. Tukang ikut campur. Silahkan maki Zavala. &lt;em&gt;Sudah biasa.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5581144060124134777-4869102512347559348?l=casanovartois.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://casanovartois.blogspot.com/feeds/4869102512347559348/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/10/1983-echo-again.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/4869102512347559348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/4869102512347559348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/10/1983-echo-again.html' title='1983; Echo Again'/><author><name>Artois.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03148100767738575209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5581144060124134777.post-5665933325320104929</id><published>2009-10-07T01:30:00.000-07:00</published><updated>2009-10-07T01:31:38.221-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='oswald'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artois'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puzzle-riddle'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='danau'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1983'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='IH'/><title type='text'>1983; PUZZLE-Riddle</title><content type='html'>Yeah, say it. LAPAAAAR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyeret tubuh kurusnya keluar dari kelas Sejarah Sihir dengan ekspresi miris, Zavala mengacak belakang kepalanya pelan, menyesali kerajinan berlebihnya yang membawanya masuk ke kelas Sejarah Sihir sore itu—yang sebenarnya selalu dia skip dari tahun ke tahun, sehingga tidak tahu dan sedikit penasaran juga tentang kelas itu. Kelasnya supermembosankan to the extreme. Menahan pelupuk mata untuk terbuka saja sulitnya minta ampun; masih juga disuguhi rangkaian kronologi membosankan dari tahun ketahun dan dunia sihir jaman dulu—waktu sesepuh dan nenek moyang masih berbicara dengan bahasa 'huba-buba' dan memuja api dan bintang-bintang—sampai masa dimana si Grendelin atau siapa tadi namanya dibakar dan tertawa psycho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumpah deh, belajar di kelas itu menghabiskan energi dan membuat lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berhasil meminta sedikit makanan dari dapur, Zavala memutuskan untuk keluar, menikmati sentuhan musim gugur yang agaknya monoton sambil makan sandwich dan coklat dan jus labu botolan yang dia minta dengan segenap kemelasan yang bisa dipancarkan ke ratusan peri rumah yang malah dengan senang hati dan mata berbinar menyerahkan berbagai makanan yang mereka buat—OH, dunia itu baik, Tuhan itu baik, tapi nasib tidak begitu baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa disadari Zavala, kakinya sepertinya sudah terpaku pada satu koordinat yang sama; danau, LAGI. Tempat dimana dia bertemu sahabat masa kecilnya yang sekarang sudah melanglang-buana entah di dunia mana; tempat para anak-anak Elang berbulu Gagak berkumpul dan ada dinosaurus keluar dari danau; juga tempat biadab yang membuat Zavala tenggelam dan berkutat dengan cumi-cumi raksasa di tengah peralihan musim Gugur ke musim dingin yang membuatnya radang paru-paru parah. Uwoh; rasanya seperti kehidupan Zavala berpusat di tempat itu, entah kenapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sepertinya hari ini ceritanya melankolis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari sosok yang terduduk di pinggir danau; rambut oranye yang sama dengan milik yang mencercanya ketika Pesta Akhir Tahun Ajaran yang lalu—ah, orang yang sama, ngomong-ngomong. Oswald. Oswald perempuan. Zavala juga pernah melihat yang laki-laki; begitu mirip, warna rambut mereka dan lain-lain; namun sifat mereka bertolak belakang. Sangat. Yang satu sanguin, yang satu melankolis. Dan tampaknya si melankolis sudah meluncur jatuh sampai ke dasarnya sekarang, melihat keadaan si gadis minim ekspresi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Disini sepi, kok. Kalau mau menangis, keluarkan saja. Aku temani."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertegun sejenak sembari menelan ludah, Zavala serasa ingin menepuk jidatnya sendiri, meloncat ke dasar danau kalau perlu—yeah; baru saja Zavala mengatakan sesuatu tanpa menyadari artinya; sebut dia aneh, meracau tanpa tahu sebab-musabab tampang terlesu si gadis; pucat dan menyedihkan. Kurang makan? Banyak masalah? Tertekan karena banyak tugas? Dan lagi, apa-apaan pula dua kata terakhir itu; tampaknya... Janggal. Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuka bungkus coklat pertamanya sembari duduk disebelah si gadis, Zavala melempar potekan coklat ke dalam mulut—menunggu diusir dengan histeris oleh si gadis yang tampaknya masih sedikit jengah dan benci padanya karena satu dua masalah kecil yang diciptakan Zavala. Menunduk, Zavala menekuni potongan coklat selanjutnya, masih menunggu reaksi si gadis. Mungkin saja pergi meninggalkannya sendiri disini? Atau malah menampar? Atau menggulingkan ke danau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeah, rite.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5581144060124134777-5665933325320104929?l=casanovartois.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://casanovartois.blogspot.com/feeds/5665933325320104929/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/10/1983-puzzle-riddle.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/5665933325320104929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/5665933325320104929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/10/1983-puzzle-riddle.html' title='1983; PUZZLE-Riddle'/><author><name>Artois.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03148100767738575209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5581144060124134777.post-3709556694693292804</id><published>2009-10-07T01:26:00.000-07:00</published><updated>2009-10-07T01:29:56.066-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artois'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='remembering the sky'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bellamont'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1983'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='IH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='windstroke'/><title type='text'>1983; Remembering the Sky</title><content type='html'>Hah? Sudah malam lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang bulir chesnut Zavala terkejap pelan, baru saja terjaga. Uh, sudah berapa kali bujang tanggung itu terus menerus terlelap di kursi yang sama di ruang rekreasi—seperti menunggu seseorang? Entahlah; yang jelas lebih dari satu. Dua? Empat? Sepuluh? Tangan kurus si bujang mengucek matanya, berusaha memfokuskan tatapannya yang berair, sementara tangan yang satu lagi menggaruk belakang kepalanya—hal yang lazim dilakukan orang yang baru bangun tidur, kok. —ya kan? Linglung, Zavala mengitarkan pandangannya; mencari jam yang entah terselip di sisi sebelah mana ruang berdominan biru itu—euh, nyaris tengah malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi tidak bisa tidur lagi, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menelengkan kepala ke kiri dan ke kanan—yang menimbulkan bunyi 'kletek' kecil si setiap kontraksi antar-tulang; dilanjutkan jongkok berdiri sedikit—yang juga diiringi bunyi yang sama; Zavala lalu melangkah keluar dari ruangan itu, dengan harapan tidak ketahuan prefek dari negeri manapun yang mencegatnya di tengah jalan; well, Zavala butuh sedikit udara segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahu tidak? Suntuk bisa menyebabkan insomnia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah hati-hati tergores tanpa suara di lantai demi lantai sekolah tua bertitel Hogwarts yang sekarang menjadi tempat tinggal kedua Zavala; membawa tubuh kurus si bujang tanggung melewati tingkatan demi tingkatan menuju lantai dasar, diiringi bisikan lukisan yang belum tertidur malam itu; ada yang memperingatkan seperti: &lt;em&gt;"Hati-hati, Filch baru lewat sini!"&lt;/em&gt;; atau bisikan penyemangat, &lt;em&gt;"Ayo Nak, semangat. Hihi."&lt;/em&gt;; ada juga yang membentak; &lt;em&gt;"Untuk apa kau keluar malam-malam begini, bocah?"&lt;/em&gt; dan beberapa kata lain yang hanya samar-samar terdengar oleh sistem pendengaran si bocah. Zavala merapatkan jaket putihnya ketika udara bergerak menelisik melalui pintu besar yang dibukanya; menimbulkan decit kecil pada baju-baju zirah yang terpampang rapi di sekitar Aula Depan—bulannya remang-remang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain danau, bulan dan langit malam juga jadi sesuatu yang berharga bagi entitas penyandang nama tengah Casanova itu. Helaan nafas berkumandang kecil diantara sepinya halaman luas kastil tua itu, membungkus si bocah dalam kesunyian tersendiri. Bersama angin dan langit &lt;em&gt;biru&lt;/em&gt; dan bulan yang sama setiap tahunnya, setiap bulan, minggu, bahkan harinya—yah, bulan kan memang hanya satu. Berusaha tidak menuju koordinat yang sudah begitu terpeta di pikirannya untuk merenung, Zavala berbelok ke arah yang berbeda, menjauhi danau—agaknya sesuatu yang berbeda itu cukup baik juga, kan? Jadi, kemana? Entah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sneakers putih Zavala berhenti bergerak, menatap gerbang besar di hadapannya. Pengalaman tidak enak berkelebat samar sejenak di hadapannya; kebodohan dan segala jerih payah sia-sia yang dikeluarkannya; titik-titik peluh yang berjatuhan ke tempatnya biasa berpijak; saksi bisu semua ketololannya di tahun kedua. Semuanya ada disitu—lapangan Quidditch. Tiga lingkaran tegak yang tampak megah dan congkak yang sama; yang pernah gagal dijaganya. Menelan ludah, Zavala membuka pintu itu, melangkah masuk; nyaris ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sudah ada dua anak manusia disitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samar-samar bocah Italia itu mendengar perdebatan lirih mereka soal langit; warnanya yang tidak ada; yah, entahlah—mungkin salah dengar, lagipula jarak Zavala dengan dua orang yang tampaknya juniornya itu &lt;em&gt;cukup&lt;/em&gt; jauh. Sedikit tertarik, bujang tanggung itu meninggalkan tempatnya semula, beringsut mendekati kedua sejoli yang sedang berdiam diri dibawah langit; memperdebatkan pendapat masing-masing, eh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Langitnya warna &lt;em&gt;biru&lt;/em&gt; kok—biru donker."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantunan serak basah melankolis menyeruak diantara kesunyian; memberi retakan kecil diantara batas kesunyian itu—sebentar lagi tampaknya akan pecah, mungkin. Mengangkat bahu dalam hati, Zavala mendongak menatap langit—langit yang dia percayai selalu biru; yang terkadang terlalu pekat sehingga dianggap warna lain oleh orang lain—hitam, misalnya. Dulu kata Vien, langit warna hitam karena dia menyimpan kesedihan. Lalu kalau gelap langit akan menangis. Tapi yang hitam bukan langit; kata Nenek langit biru dan Zavala percaya—mau percaya itu. Yang hitam itu awannya, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong, kenapa Zavala seperti penggangu disini?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5581144060124134777-3709556694693292804?l=casanovartois.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://casanovartois.blogspot.com/feeds/3709556694693292804/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/10/1983-remembering-sky.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/3709556694693292804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/3709556694693292804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/10/1983-remembering-sky.html' title='1983; Remembering the Sky'/><author><name>Artois.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03148100767738575209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5581144060124134777.post-5289297778575655335</id><published>2009-08-22T05:29:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T05:30:53.642-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ravenclaw'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artois'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='award'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='babu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1982'/><title type='text'>1982; Konspirasi Babu</title><content type='html'>Dan matahari sudah mulai muncul dari bawah tanah—err... bukan, belahan Bumi yang lain—eeh, pokoknya itulah. Kejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang mata ber-iris hazel terbuka perlahan—ditutupi sepasang tangan kurus dengan pose melindungi, mencoba menutup organ untuk melihat itu dari sinar matahari yang bersinar perlahan—menyapu menara tempat para elang bersarang. Sesosok pemuda—pemilik sepasang mata dan sepasang tangan itu—berguling pelan menghindari cahaya sang pusat tata surya—terus menjauh dan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;GEDEBUK.&lt;/strong&gt; "Adaw."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—jatuh, saudara-saudari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengumpat pelan sembari mengelus puncak kepalanya, pemuda itu berusaha bangkit dari posisi terkaparnya—tepat ketika selimut yang semalam dipakainya bergelung layaknya kepompong jatuh menimpanya bersamaan dengan dua buah surat. —satu dari rumah dan satu... tanpa nama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;dl&gt;&lt;dt&gt;Surat-dari-rumah&lt;/dt&gt;&lt;dd&gt; &lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt;&lt;div&gt;Hey, mornin' boy.&lt;br /&gt;Err... Begini.&lt;br /&gt;Ayah, Ibu—dan semuanya ingin meminta maaf padamu, kau tahu, insiden waktu—blablabla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(skip it)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...intinya, maaf.&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;—oke, dimaafkan. Helaan nafas berkumandang pelan sementara kesepuluh jari tangan pemuda itu meremas surat itu perlahan—yang sudah berlalu, biarkan berlalu, iya kan? Ngomong-ngomong, ingatkan untuk membalas surat itu nanti. Kedua manik hazelnya berangsur ke surat selanjutnya—tampak agak nyentrik. Amplopnya biru tua, perkamennya perunggu, dan tintanya bling-bling—keren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;dl&gt;&lt;dt&gt;Surat-tanpa-nama-yang-setelah-dibaca-rupanya-dari-Rowena-Ravenclaw&lt;/dt&gt;&lt;dd&gt; &lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt;&lt;div&gt;Aloha, Artois!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisakah kau melihat matahari di ujung timur sana—tanda pengharapan baru, nak! Matahari bersinar cerah layaknya pengharapan baru bagi generasi elang—baik yang jantan maupun betina. Generasi muda adalah generasi yang berapi-api, semua tahu itu, dan kau adalah bagian dari mereka!—skipit, skipit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau—yang di masa lalu telah meneruskan generasi Adam Ravenclaw—wasweswos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sayang,&lt;br /&gt;Rowena Ravenclaw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S.: Louisa Napoleon, Amanda Steinhart, Rhys Flannery, dan Alphonse van Kimblee bersedia untuk melayanimu kapan saja, dan apa saja. Ciao, darling.&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;—HAH?! Surat kaleng?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meneruskan generasi Adam Ravenclaw? Oke, Zavala tahu cucu si Adam di asrama gagak itu sangat jarang—bukan maksudnya sedikit, tapi mereka semua tidak aktif, jarang hadir di kelas—bahasa kerennya kalau di negara Indonesia itu &lt;em&gt;madol&lt;/em&gt;, dan Zavala mungkin terbilang, ehem, rajin masuk kelas, begitu? Dan lagi, siapa itu empat orang di pojok bawah—Napoleon agak itu familiar, namun tiga lagi...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—peduli amat, ah. Hanya orang iseng, barangkali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangkat bahu pelan, pemuda itu melempar surat itu kembali ke atas tempat tidur, dan berjalan—menyeret tubuh kurusnya ke kamar mandi. —hari ini tiba-tiba Zavala ingin mencoba memasuki sebuah ruangan keramat di lantai empat—yang sebelumnya belum pernah Ia masuki. Perpustakaan. Keren kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—sebenarnya dia hanya sedikit penasaran dengan arti surat kaleng tidak jelas yang diterimanya itu. Plin-plan? Memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, nah, sekarang disinilah Zavala, berjalan lambat diantara rak-rak buku yang menjulang. Agak berlebihan memang, tetapi tadi Zavala sempat menahan nafas sejenak saat kaki kurusnya akan menapak ke wilayah yang disebut perpustakaan itu—sebelum melenggang masuk dengan bingung ke dalam ruangan yang superbesar itu. Sebuah gumaman yang kurang lebih berbunyi 'ini ya yang namanya perpustakaan' terlantun pelan dari bibir tipisnya—sementara matanya asyik jelalatan memandangi setiap jengkal ruangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BRUKK.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—dan ada seorang gadis yang sepertinya adalah seniornya yang sepertinya tahun ini lulus sedang berpose kurang enak dengan kerennya diantara buku-buku yang jatuh berserakan di sekitarnya. Dengan rambut terjurai-jurai mengerikan layaknya setan penasaran yang gentayangan dan memanfaatkan perpustakaan sebagai tempat tinggalnya—seperti hantu toilet dulu itu. Helaan nafas mengalir pelan dari rangkaian organ pernafasannya—disusul dengusan pelan menahan tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bisa berdiri, senior?" Zavala menunduk sedikit, menyodorkan tangan kanannya ke depan wajah kaptennya itu, sementara ekspresinya masih &lt;em&gt;mesem-mesem&lt;/em&gt;, menahan tawa, namun dengan sorot mata agak khawatir. —mengkhawatirkan keselamatan sendiri, tahu. Siapa tahu sesosok yang mirip manusia itu &lt;em&gt;suster ngesot&lt;/em&gt; yang makan manusia. "Atau kau itu... Se—" bisikan pelan terlantun sebagai lanjutan kata-katanya—yang digantungkannya begitu saja. Setan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—imajinasi berlebihan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5581144060124134777-5289297778575655335?l=casanovartois.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://casanovartois.blogspot.com/feeds/5289297778575655335/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/08/1982-konspirasi-babu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/5289297778575655335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/5289297778575655335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/08/1982-konspirasi-babu.html' title='1982; Konspirasi Babu'/><author><name>Artois.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03148100767738575209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5581144060124134777.post-8695183549020703118</id><published>2009-08-22T05:28:00.001-07:00</published><updated>2009-08-22T05:28:59.141-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artois'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='qualfrey'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='IH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1982'/><title type='text'>1982; Rainbow Droplets</title><content type='html'>Chronos—kenapa disaat yang menyenangkan, dia melepas waktu begitu cepat, sehingga momen bahagia sang anak manusia menghilang begitu cepat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momen bahagia, eh? Mendengus pelan—sesosok bujang tanggung menertawakan pemikirannya sendiri. Oke, kalau boleh diakui—Zavala cukup bahagia ketika bertemu dengan gadis itu di tahun pertama di kastil tua itu. Dan Chronos merengut momen bahagia sesaat itu, dimana tangan kurus si bocah Italia itu menggenggam sebuah tangan kecil yang hangat—yang dimiliki seorang gadis yang dingin; sangat dingin. Suka? Well, mungkin perasaan itu pernah terlintas sesaat di bocah bujang labil itu—namun hanya sesaat, sepertinya—tidak lebih, tidak berlanjut; walau mungkin sedikit membekas. Atau mungkin gadis &lt;em&gt;naif&lt;/em&gt; yang manis itu? Yang memiliki sesosok bodyguard posesif? Tidak. Nona serbagelap dengan boneka? Tidak juga. Atau... Sesosok senior cantik yang dulu menyiramnya? Not even in his wildest dream.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Helaan nafas terdengar lamat-lamat, terhela perlahan dari saluran penafasan si bocah Italia itu sementara berbagai pemikiran berputar di kepalanya. Menengadahkan leher kurusnya, kedua hazelnya memandangi hal yang tersaji dengan tatapan kosong. Langit biru yang menaungi tempatnya terdiam. Luas. Tidak berbatas. Tidak bergeming. Bertahta. Kesepian. Seulas senyuman penuh arti terlayang singkat pada langit biru berawan itu—yang tentu saja tidak bisa tersenyum balik pada si bujang tanggung—berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa waktu yang dihabiskannya untuk terbengong kosong seperti itu—tapi harus diakui bahwa Zavala memang sering melakukannya. Dan dia cukup menyukainya—Zavala selalu suka momen ketika dia berdiam sendiri. Namun bukan berarti dia tidak suka berbicara dengan orang lain, tidak, Zavala cukup senang dengan keramaian juga. Namun momen kesendiriannya dengan alam memiliki arti tersendiri baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hhh, jadi melantur kemana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zavala mengubah posisinya, menjauhi pohon berdaun kekuningan tempatnya berdiang—tanda musim gugur akan berlanjut—lalu berdiri memandang danau yang terhampar di hadapannya. Refleksi langit tertutur abstrak di kanvas besar bening itu—sejenak menipu kalbu. Seandainya refleksi danau itu menipu dan anak manusia melompat ke danau karena ingin menyentuh langit, apa yang akan terjadi? —dan lagi, adakah orang bodoh yang akan mengira danau adalah langit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang kaki kurus terkoordinasi statis, melangkah mendekat bibir danau. Sesaat, Zavala merasa bahwa dia adalah si anak manusia bodoh yang akan melompat ke danau demi meraih sang langit—namun si anak manusia malah akan tenggelam, menjauhi langit, terseret langit semu; lalu mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—tidak terima kasih. Sesakitnya bujang tanggung itu, dia masih mau hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menelengkan kepalanya sejenak, si bocah Italia bertanya-tanya pada pemikirannya sendiri—apa sebenarnya tujuannya menghampiri danau itu? Menyentuh sang langit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendesah pelan, Zavala terduduk tepat di tepi danau, bertelanjang kaki, membiarkan kesepuluh jari kaki dan kedua telapak kakinya mempermainkan unsur kehidupan yang penting itu. Kanvas bening itu. Menciptakan riak-riak dan cipratan kecil—menghancurkan imaji langit abstrak dari permukaannya—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—agar tidak ada lagi anak manusia yang terjebak imaji sesaat. Kekanakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan. Tawa berderai pelan dari bibir tipisnya, memandang refleksi dirinya sendiri di danau. Tertawa. Ekspresi yang selama ini selalu dirindukannya. Hazelnya berbinar riang, memandangi refleksi tipis spektrum tujuh warna yang mengambang tipis diatas permukaan danau—pantulan cipratan kaki kurusnya dan matahari musim semi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak kekanakan—dia juga masih anak-anak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5581144060124134777-8695183549020703118?l=casanovartois.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://casanovartois.blogspot.com/feeds/8695183549020703118/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/08/1982-rainbow-droplets.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/8695183549020703118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/8695183549020703118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/08/1982-rainbow-droplets.html' title='1982; Rainbow Droplets'/><author><name>Artois.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03148100767738575209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5581144060124134777.post-654520263597106584</id><published>2009-08-22T05:27:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T05:28:16.485-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ylva'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='zavala'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='IH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1982'/><title type='text'>1982; Moonie</title><content type='html'>Nah, kan. Zavala benar-benar jadi antagonis disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua bola mata sewarna tanahnya berputar pelan melihat sesosok makhluk-berbadan-manusia-berkepala-beruang—yang baru disadari Zavala hitam dari ujung kepala sampai ujung kaki—dan... Kakinya masih menempel pada ubin batu, jadi kesimpulannya dia manusia—ahahaha, yeah, manusia. Lambat namun pasti, tubuh manusia—iya, manusia, beneran, perempuan pula—itu merosot jatuh, terkapar menggelepar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—terisak lagi. Woy, Zavala kan cuma bertanya. Kenapa jadi terkesan seperti mem0bully begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;"...Ma-manusia...," &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yoha, satu kata yang menegaskan gadis itu adalah manusia—jujur, tadi Zavala sempat mengira itu setan yang sedang menyamar jadi manusia—ampun dijeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zavala berjongkok, menatap sebentar manik yang menjadi kepemilikan gadis serba hitam itu sejak lahir, warnanya ternyata benar-benar kontras—biru dan hijau. Langit dan rumput. Mengingatkan Zavala pada seseorang ya—ah, sudahlah. Tangan kurus Zavala terangkat, menepuk pelan kepala juniornya itu—rambutnya halus, hitam panjang seperti... Beludru? Dan saat itu sebuah gumaman maaf dan sebuah alasan klise mengalun lembut dengan suara sopran melankolis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...tidak apa-apa," Zavala tersenyum kecil pada nona-serba-hitam itu. "Ngomong-ngomong, ini punyamu?" lanjutnya, tangan kurusnya meraih sebatang kayu—tongkat sihir—lalu meletakkannya di pangkuan gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;"Ih waw, sedang apa kalian, eh?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersentak, Zavala menarik tangan kurusnya, lalu berdiri, berbalik memandang sosok pemilik suara—yang cempreng-cempreng sok tahu—lalu beralih ke seragamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hm...? Anak Hufflepuff? Malam-malam begini, ada saja anak musang yang lepas dari kandangnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah ya, malam terakhir di sekolah, hm? Sesaat, Zavala pikir itu adalah hari pertamanya—sesudah Pesta Awal Tahun Ajaran—di sekolah itu. Ternyata sang Chronos melepaskan waktu begitu cepat, eh? Tanpa bocah Italia itu sadari, setahun sudah nyaris berlalu sejak mati surinya. Cuih, hidup begitu cepat, besok dia harus pulang, kembali ke rumah pertamanya dan meninggalkan kastil yang sudah Ia cap sebagai rumah keduanya. Aaah, hidup. Zavala menghela nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—back to topic. Tadi bocah musang itu tanya apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...tidak sedang apa-apa, nona." Zavala nyengir, menatap bocah yang sedikit lebih pendek darinya itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5581144060124134777-654520263597106584?l=casanovartois.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://casanovartois.blogspot.com/feeds/654520263597106584/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/08/1982-moonie.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/654520263597106584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/654520263597106584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/08/1982-moonie.html' title='1982; Moonie'/><author><name>Artois.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03148100767738575209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5581144060124134777.post-1055804395070828148</id><published>2009-08-22T05:25:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T05:26:31.243-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artois'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1981'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='IH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='never is better'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kimiko'/><title type='text'>1981; Never is Better.</title><content type='html'>Benar, istirahat sejenak tidak akan membunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan, tapi pasti, sepasang mata ber-iris hazel milik Zavala mulai menjernih, dan pandangannya menjadi cukup jelas sekarang. Langit kembali menjadi biru, dan rumput ternyata putih, karena ditutupi tumpukan putih yang halus dan dingin, yang dulu juga menutupi tubuh Bas, Zavala, dan Vien. Nate sedang sakit saat itu, sehingga tidak diijinkan bermain bersama kakak-kakaknya waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-style: italic;"&gt;I feel fine and I feel good&lt;br /&gt;I feel like I never should&lt;br /&gt;Whenever I get this way, I just don't know what to say&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sepasang manik hazel itu masih memandang kosong sosok bermanik hitam bening di hadapannya itu. Otak pemiliknya berusaha mengumpulkan nyawa yang sedari tadi berterbangan keluar dari tubuhnya dan berlenggang kakung seenak jidat kemana mereka mau. Bibir pemuda berambut hazel yang acak-acakan itu masih terkatup, tidak tahu apa yang mau diungkapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan nona di hadapannya itu seakan dapat membaca isi kepala Zavala. Dia menawarkan untuk kembali ke asrama. Ah, sesuatu yang sedari tadi ingin dilakukannya namun, apa daya, tubuhnya sama sekali tidak bertenaga jika harus naik berlantai-lantai menuju menara yang astaganaga tingginya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Zavala terbangun dari mimpi indahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sedikit memaksa, dia mengangkat tubuhnya, bertumpu pada kedua tangannya, berusaha menyenderkan tubuhnya di pegangan tangga itu lagi. Ah, rupanya Tuhan memang sayang cucu Adam yang satu ini. Nyawa-nyawa seenak udelnya sudah kembali ke dalam tubuhnya, menyadarkan apa yang harus dilakukannya, dan mengingatkan apa yang telah dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hell, Zavala telah manja sepagian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi, Zavala menutup matanya sejenak, menghela nafas panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kejaiban berikutnya. Nona itu menawarkan bantuan. Hanya basa-basi karena ingin cepat keluar dari masalah ini, ataukah tulus? Ah, kau memang naif, Zavala. Sangat naif. Terpengaruh otakmu yang moodnya naik-turun dan tidak kulonuwun, hm? Sekarang pertanyaannya ada padamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menerima bantuannya, atau tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Zavala bangkit dari duduknya, meraih tangan gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika aku jatuh, maukah kau membantuku?" tanyanya, menatap lurus pada manik hitam bening gadis itu. Tatapannya sedikit memancarkan tidak suka, mungkin karena tangannya digenggam oleh Zavala. "Maaf, dan terima kasih." ulangnya, nyengir timpang, masih bingung, diantara ingin tersenyum namun merasa sedikit bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan... Zavala menaik pelan gadis itu, membimbing, ah, mungkin malah dibimbing, nona itu untuk kembali ke asrama. Lelah yang merantai tubuhnya serasa lepas begitu saja, digantikan oleh kehangatan yang dia rasakan, dari dua tangan yang bertautan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga permusuhan kecil itu cepat selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zavala mengerling singkat ke arah nona itu, tersenyum kecil dalam hati melihat ekspresi gadis itu, yang bercampur antara khawatir, datar dan sedikit jengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Did you regret? Ever standing by my side&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Did you regret? Ever holding my hand&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5581144060124134777-1055804395070828148?l=casanovartois.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://casanovartois.blogspot.com/feeds/1055804395070828148/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/08/1981-never-is-better.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/1055804395070828148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/1055804395070828148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/08/1981-never-is-better.html' title='1981; Never is Better.'/><author><name>Artois.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03148100767738575209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5581144060124134777.post-2797089010659163663</id><published>2009-08-22T05:21:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T05:25:00.909-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kelas mantera'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artois'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1980-1981'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='essay'/><title type='text'>1980-1981; Kelas Mantra</title><content type='html'>Menulis. Menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, bohong. Sedari tadi, tangan itu sama sekali tidak menulis. Tangan kanan Zavala memang bergerak-gerak, dan mencoreti perkamen bersih itu. Tapi yang dilakukannya bukanlah menulis. Dia menggambar. Sepasang manik hazelnya menatap lurus ke arah perkamen yang dia nistai itu. Ada gambar thestral, werewolf dan hag. Tangan rampingnya segera meraih perkamen bergambar itu, melipatnya dan menyelipkannya ke dalam tas postmannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segera, Ia menarik perkamen baru, yang sudah membusuk dan menunggu minta diisi sejak awal tahun ajaran, mencoba menulis. Yah, benar-benar menulis, bukan sekedar menggambar iseng-iseng begitu. Namun, otaknya masih saja blank. Blank total. Apa sih telah mereka pelajari setahunan pelajaran itu? Kok Zavala lupa semuanya, ya? Masa setelah berpikir berdekade-dekade, yang ada di perkamen Zavala hanya nama dan asramanya saja? Oke, berpikir. Ilmu hitam itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;dl&gt;&lt;dt&gt;Quote:&lt;/dt&gt;&lt;dd&gt; &lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;Zavala C. Artois&lt;br /&gt;Ravenclaw&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Ilmu Hitam, dan cabang-cabang sepermainannya.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Definisi singkat:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ilmu hitam itu... Salah satu cabang sihir, lawannya sihir putih. Katanya sih, ilmu hitam itu &lt;em&gt;"banyak jenisnya, bervariasi, selalu berubah-rubah, abadi, tak dapat dikontrol, berpindah-pindah, dan tidak dapat dimusnahkan"&lt;/em&gt;. Kebenarannya? Ah, saya tidak tahu. 8 dari 10 orang di dunia menyebutkan bahwa ilmu hitam itu berbahaya, tapi tentu saja, ada untung dan ruginya juga, kan? Oh just wrap it.&lt;br /&gt;Menggunakan Sihir Hitam adalah illegal. Oleh karena itu, para penyihir pun anti kepada sihir hitam. Maka dari itu, sekolah ini mengadakan pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam.&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... Zavala malah meracau tidak jelas dalam catata anehnya itu. Mata hazelnya memandang aneh pada bagian &lt;em&gt;"8 dari 10 orang..."&lt;/em&gt;. Sejak kapan Zavala melakukan voting terhadap penyihir-penyihir, heh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;Biar saja, lanjutkan.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;dl&gt;&lt;dt&gt;Quote:&lt;/dt&gt;&lt;dd&gt; &lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;A. Sihir hitam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari namanya juga pasti sudah tahu, sihir atau mantra hitam itu ya sihir yang efeknya hitam-hitam &lt;del&gt;(apasih)&lt;/del&gt; dan tidak menyenangkan. Mantra-mantra seperti ini biasanya merusak secara fisik maupun psikis, dan tentu saja ilegal. Untuk lebih jelas, mari kita lihat contohnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Avada Kedavra: &lt;del&gt;Siapa sih yang tidak tahu efeknya? Ituloh, yang dipakai Kau-Tahu-Siapa untuk membantai semua orang.&lt;/del&gt; Err... Kutukan tak termaafkan yang bisa membunuh orang tanpa adanya tanda bekas pembunuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Crucio (Kutukan Cruciatus): &lt;del&gt;Kroninya mantra diatas. Sama-sama kutukan tak termaafkan.&lt;/del&gt; Kutukan yang memberi rasa sakit yang amat sangat pada objek mantra. &lt;del&gt;Eh, kalau begitu keseleo itu hasil crucio ya?&lt;/del&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Imperio (Kutukan Imperius): Temannya dua mantra diatas. Kutukan tak termaafkan yang membuat pengguna mantra mendapat kendali penuh akan objek mantra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Inferius: Mantra yang tidak jelas cara memakainya. Pokoknya katanya untuk membangkitkan orang mati, dimana nanti si orang mati akan ada dibawah kuasa penggunan mantra. &lt;del&gt;Sepertinya digunakan untuk membangkitkan zombie di Resident Evil.&lt;/del&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Benda sihir&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Horcrux&lt;br /&gt;2. Tangan Kemuliaan&lt;br /&gt;3. Buku-buku terlarang (Misalnya buku-buku yang berada di seksi terlarang Perpustakaan Hogwarts)&lt;br /&gt;4. Gulungan kulit ular&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;C. Makhluk Gaib Hitam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Banshee : Itu loh, setan tante-tante yang hobinya menjerit-jerit kalau ada yang mau meninggal.&lt;br /&gt;2. Thestral : Makhluk hitam tidak jelas yang hanya bisa kau lihat setelah kau melihat langsung sesuatu yang disebut kematian.&lt;br /&gt;3. Dementor : &lt;del&gt;Tidak tahu apa itu Dementor? Kau baca koran ngga sih?&lt;/del&gt; Makhluk seperti jubah-jubahan yang bisa terbang dan menghisap jiwa manusia.&lt;br /&gt;&lt;del&gt;4. Dan teman-teman sepermainan mereka yang lain.&lt;/del&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. Ramuan Hitam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Amortentia&lt;br /&gt;2. Polijus&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, tangan kanan Zavala berhenti, memandang catatannya itu. Oke, catatan itu sangat aneh dan penuh racauan. Tangannya sudah pegal menulis dan otaknya sudah pegal meracau, jadi Zavala memutuskan untuk berhenti menulis saja. Lagipula, itu saudah cukup panjang. Tidak ada ketentuan untuk menulis 150 kata atau lebih seperti kelas Herbologi, toh?&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Dan catatan itu berantakan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peduli amat, lah. Lebih baik daripada tidak membuat sama sekali, kan? Case closed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zavala merebahkan kepalanya dengan malas, menjulurkan tangannya kedepan, menggerak-gerakkan kakinya di bawah meja. Bosan. Mata hazelnya menangkap sosok seseorang yang dulu menyapanya di kelas transfigurasi. Namanya... Dodo?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hei, Dodo. How's life?" Zavala, nyengir ke arah bocah pirang beremblem singa itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5581144060124134777-2797089010659163663?l=casanovartois.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://casanovartois.blogspot.com/feeds/2797089010659163663/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/08/1980-1981-kelas-mantra.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/2797089010659163663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/2797089010659163663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/08/1980-1981-kelas-mantra.html' title='1980-1981; Kelas Mantra'/><author><name>Artois.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03148100767738575209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5581144060124134777.post-905653772176495489</id><published>2009-08-22T05:20:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T05:21:50.201-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='yamadika'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artois'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='thread'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='IH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AS'/><title type='text'>1981; Dreamcamp.</title><content type='html'>Musim dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh aduh aduh. Zavala mau susu coklat panas. Sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok hari ini terasa dingin sekali, ya? Padahal ini baru awal musim dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaki kurusnya yang terbalut celana panjang hitam berlari-lari kecil ke dapaur, meminta segelas susu coklat panas. Setelah mendapat susu coklat panasnya, alih-alih membawanya ke kamarnya, Zavala tidak menuju ke kamarnya, melainkan berdiam di ruang rekreasi asrama. Ruangan itu sepi, yeah. Sepasang manik hazelnya memandang keliling ruangan sejenak. Lalu dengan cuek, Zavala langsung melangkahkah kakinya yang terbalut sneakers putihnya melalui lantai yang dingin, mencari tempat duduk yang nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, hangat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibir tipisnya merasakan hangatnya susu coklat itu, yang terus mengalir, terus melewati tenggorokannya. Hangat dan nyaman, serta menyenangkan. Zavala menyenderkan tubuhnya lebih dalam ke tempat empuk yang Ia duduki itu. Matanya tiba-tiba terasa berat. Ukh. Zavala mengucek matanya pelan, meletakkan gelas bekas susu tadi, lalu tertidur begitu saja di kursi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang mata yang berbeda warna--- heterokromatik, kerennya --- mengerjap pelan, berusaha menyamakan intensitas cahaya yang jatuh ke retina matanya. Dengan malas, Dika mencoba bangun dari tempat tidurnya. Sedikit kesiangan, eh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mata setengah terbuka, Dika memandang berkeliling, menggaruk rambut kebiruan pendeknya yang tidak gatal. Ia lalu menyeret kaki rampingnya ke kamar mandi, mencuci mukanya lalu berganti baju. Pagi yang... cerah, sepertinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, kelas? Sudah terlalu terlambat kan, untuk masuk kelas? Lagipula homeroom teacher Technical, siapa namanya? Oh, Chopin-sensei juga jarang berada di kelas. Dan alasan yang paling jelas mengapa Dika tidak masuk kelas hari ini adalah : hari ini hari Minggu. Dengan santainya, Dika berjalan menuju Central Town. Menyusuri setiap toko dan tempat yang penuh kenangan bodoh semenjak Ia ada disitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkahnya berhenti saat melewati Central Park. Bibirnya menyunggingkan seulas senyum saat melihat siapa saja yang ada di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini ada gathering, ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera saja, kaki rampingnya yang terbalut sneakers coklat, ralat, sneakers putih dekil, berjalan menghampiri sekumpulan orang itu, meninggalkan jejak kaki yang tidak terlihat di jalan setapak central park. Tubuh kecilnya menembus atom-atom yang tidak terasa, sementara angin meniup kemeja putihnya yang tidak dikancing, menampakkan sleeveless t-shirt hitamnya. Ransel coklatnya bergantung pasrah di punggung pemiliknya, tersentak-sentak pelan seiring getaran yang diciptakan tubuh mungil itu saat berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pagi semua!" ujarnya ringan, tersenyum kecil seperti biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramai sekali. Ada kakak kelas yang dulu Ia timpa saat dia baru pertama masuk ke akademi, ada pacar si kakak kelas, ada guru kesehatan berambut shocking pink, ada watcher songong, ada sekumpulan anak-anak elementary, bahkan ada teman satu technical.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"... Boleh bergabung?" lanjutnya, memandang tiap individu di hadapannya itu dengan mata heterokromatiknya, menyunggingkan senyum lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5581144060124134777-905653772176495489?l=casanovartois.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://casanovartois.blogspot.com/feeds/905653772176495489/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/08/1981-dreamcamp.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/905653772176495489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/905653772176495489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/08/1981-dreamcamp.html' title='1981; Dreamcamp.'/><author><name>Artois.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03148100767738575209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5581144060124134777.post-8885138836590080556</id><published>2009-08-22T05:17:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T05:18:09.690-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artois'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='IH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seleksi asrama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1980'/><title type='text'>1980; Seleksi Asrama</title><content type='html'>Zavala, dengan Sox nemplok di kepala berambut coklatnya, turun dari kereta dengan wajah bahagia. Sox ada disitu, dan oh please, sepertinya Zavala mabuk darat, jika naik kereta bisa disebut darat. Dengan langkah gontai, Ia melangkah bersama orang-orang yang sepertinya murid baru juga, sama sepertinya. Belum sempat Ia senang, beberapa saat kemudian dia sudah berhadapan dengan danau yang super-duper-mega-giga... OK, tidak seberlebihan itu, tapi... Well, Zavala sepertinya BENCI segala yang berhubungan dengan kendaraan. Teringat kejadian di Hogwarts Express tadi, Zavala masih sedikit malu, karena tertidur di bahu gadis yang bahkan tidak Ia kenal, memeluknya sembarangan pula. Zavala merapatkan jubahnya, menghalangi angin dingin menusuk badan kurusnya. Yak, dan kapal-kapal kecil yang berisi kurang lebih tujuh, atau lebih, orang itu mulai meluncur dengan kecepatan luar biasa. Sihir tentunya. Tak ada manusia yang bisa mengayuh secepat itu, mungkin kecuali orang super besar yang tadi menjemput mereka di stasiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wow. itu yang terlintas di pikiran Zavala saat melihat kastil Hogwarts itu. Supermassive cool. Kastil abad pertengahan yang megah, seperti yang ada di Ensiklopedia milik Ayah di rumah. Zavala suka dengan arsitektur, namun tidak menyangka sekolah barunya akan semirip itu dengan yang ada di buku, tidak seperti sekolah lamanya yang bentuknya kotak. Zavala segera menjejakkan kakinya di daratan saat kapal itu menepi. Bukan karena dia norak, bukan juga karena terkesima. Kepalanya masih pening dan sekarang Ia deg-degan, apa petualangan yang akan menantinya dalam kastil itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OK, semua murid yang naik perahu bersamanya ataupun tidak, yang jelas calon murid tahun pertama, bergerombol seperti kawanan sapi siap dipotong. OK, tidak dipotong. Mereka semua berjalan bergerombol dengan berkoar seperti bebek-bebek yang ingin menyebrang jalan. Zavala merinding. Yeah, aura dalam kastil itu 'berbeda' dari dunia muggle yang selama ini ditinggalinya. Well, para 'domba-domba kecil' itu melangkah ke sebuah ruangan supermassive besar, dengan lima meja super panjang. Empat berjejer, dengan murid-murid senior, dan satu di depan tengah, dengan guru-guru yang mengisi tempat duduknya. Sebentar lagi, mungkin Zavala akan jadi salah satu yang duduk di kursi panjang yang berjejeran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil kepala sekolah, yang memperkenalkan diri sebagai Professor McGonagall memberikan instruksi, lalu meletakkan sebuah topi yang... Euh... Kusam, lusuh, jelek dan butut di atas sebuah kursi. Tidak begitu peduli, Zavala malah jelalatan melihat-lihat, adakah wajah yang dikenalnya? Oh, ada gadis-yang-tadi-Ia-peluk-dan-senderi. Bahkan Zavala belum tahu namanya. Sambil mencamkan dalam pikirannya untuk bertanya siapa namanya, tiba-tiba topi itu mulai bernyanyi sumbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;♪♫♪♫♪♫♪♫&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah terpikir olehku&lt;br /&gt;Tak sedikitpun ku bayangkan&lt;br /&gt;Kau akan masuk ke dalam asrama mana..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sulit kubayangkan&lt;br /&gt;Begitu susah ku pikirkan&lt;br /&gt;Kau akan pergi ke mejaaa.. mu sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyihir yang sangat berani&lt;br /&gt;Kan kumasukkan&lt;br /&gt;Ke dalam asrama berlambang singa&lt;br /&gt;Sedangkan yang licik&lt;br /&gt;kan kubiarkan masuk ke kandang ular&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah para penyihirku pekerja keras&lt;br /&gt;Siap tuk belajar dalam Hufflepuff&lt;br /&gt;Dan untuk yang pintar&lt;br /&gt;Ravenclaw-lah pasti..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali saja ku telah bisa seleksi kamu;kamu;kamu ke asrama&lt;br /&gt;Namun bagiku menyatukanmu butuh usaha seumur hidup…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;♪♫♪♫♪♫♪♫&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, topi butut lusuh menyedihkan itu selesai bernyanyi. Kata Ayah, topi itu yang akan menyeleksi murid-murid baru itu. Oh, please, topi aneh butut yang bisa berbicara? Keren sih, tapi... Hhhh, sudahlah. Wakil kepala sekolah tadi, yang bernama Professor McGonagall, atau siapalah tadi, mulai memanggil nama para 'domba-domba kecil' itu satu persatu, sampai akhirnya, perlahan, perlahan, dan Zavala pun dipanggil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artois, Zavala Casanova."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OK. Stay cool. Zavala mengatur napasnya, melangkah menuju bangku kecil yang sudah disiapkan. Topi kerucut lusuh itu agak kebesaran di kepalanya, menutupi rambut coklatnya dan sedikit melorot, hampir menutupi matanya. Dia tidak tahu akan dimasukkan kemana. Kandang singa, tempat yang pemberani? Atau liang ular, tempat si licik? Mungkin sarang musang, tempat para romusha, eh bukan. Si pekerja keras? atau Sarang elang, rumah bagi cendekiawan? &lt;em&gt;"Apa saja asal bukan ular. Aku benci ular."&lt;/em&gt; pikir Zavala dalam hati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5581144060124134777-8885138836590080556?l=casanovartois.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://casanovartois.blogspot.com/feeds/8885138836590080556/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/08/1980-seleksi-asrama.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/8885138836590080556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/8885138836590080556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/08/1980-seleksi-asrama.html' title='1980; Seleksi Asrama'/><author><name>Artois.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03148100767738575209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5581144060124134777.post-62684162483296704</id><published>2009-08-22T05:09:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T05:17:10.611-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='surat tahun pertama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artois'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='IH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hogwarts'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1980'/><title type='text'>Summer 1980; Surat dari Hogwarts</title><content type='html'>DRAP DRAP DRAP!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar suara langkah kaki berlari di koridor. Telinga Zavala langsung tegak. Langkah kaki beraura tidak bersahabat itu melangkah ke kamarnya. Ia langsung mendapat firasat yang amat sangat buruk.&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;“Zav!!!” &lt;/span&gt;terdengar sebuah  teriakan cempreng memanggil Zavala. &lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;“ZAV!!!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sampai sepuluh detik Zavala menghitung dalam hati, pintu kamar oak hitam yang menempel di dinding kamarnya menjeblak terbuka. Beberapa detik kemudian, bantal biru yang Zavala pakai untuk menutup telinganya teronggok pasrah di sisi ranjang dengan seprai senada. &lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;“ZAVALA CASANOVA ARTOIS!”&lt;/span&gt;, suara itu serasa ultrasonik yang memekakan telinga bagi Zavala. Sedihnya, setiap hari dia harus mendengar suara ini, karena pemilik suara itu adalah kakak perempuannya, &lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;“Sudah waktunya bangun!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan malas, Zavala membuka mata sejenak, menggeliat dan membalikkan badannya memunggungi kakaknya itu. &lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;“Sebentar lagi, Vien… Sekarang kan liburan…”&lt;/span&gt;, gumamnya malas. Namun, seperti pikiran gadis-gadis keras kepala bahwa kakak perempuan adalah ratu, dalam hitungan detik, Zavala sudah tergeletak di lantai, senasib dengan bantal biru yang setia menemani tidurnya dan menampung liurnya itu. Dengan ogah-ogahan, Zavala bangkit dari lantai, memegang kepalanya yang sedikit pusing karena terbentur… Entahlah, salah satu barang yang bertebaran di lantai kamarnya. Saat mendongak, gadis muda dengan short-dress putih memandangnya dengan tatapan penuh kemenangan, memegang seprai biru laut yang beberapa detik lalu masih terpasang di kasur Zavala.&lt;br /&gt;&lt;em style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;“Oof…”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt; &lt;/span&gt;Zavala bergumam kecil saat seprai birunya jatuh menutupi rambutnya yang berantakan, &lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;“Mom memanggilmu, Zav.” &lt;/span&gt;Ujar Cecil sebelum melangkah keluar kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh menit kemudian, Zavala melangkah masuk ke ruang makan keluarga Artois. Tercium aroma hangat yang familiar dari dapur. Mrs. Artois dan Nate, adik laki-laki Zavala dan Vienna, sedang memasak sesuatu, yang mungkin bisa dibilang sarapan, jika berhasil. Nate selalu bersikeras untuk memasak, walaupun biasanya hasilnya gosong, atau belum matang. Mr. Artois sedang membaca koran, lebih tepatnya Daily Prophet, di salah satu kursi meja makan. Sementara Vienna tidak ada di ruang makan. Mungkin sedang mengurus Mekada, burung hantu miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;“Dad," ujar Zavala, &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;“Ada bu&lt;/span&gt;rung hantu. Menempel di jendela kita.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;“Hm…?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt; &lt;/span&gt;Mr. Artois menutup Daily Prophetnya, mengerling ke arah Mom sejenak, yang hanya mengangkat bahu. &lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;“Itu bukan Mekada ataupun Sol. Pasti surat dari suatu tempat. Bukakan jendela, Zav.”&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt; &lt;/span&gt;perintah Mr. Artois. Zavala berdiri, menghampiri jendela dan membukanya. Burung hantu itu langsung menghambur ke arahnya, menjatuhkan surat tangan Zavala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zavala memperhatikan sejenak surat itu. Di surat yang tampak tua itu tertera namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;dl&gt;&lt;dt&gt;Quote:&lt;/dt&gt;&lt;dd&gt;&lt;br /&gt;&lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;SEKOLAH SIHIR HOGWARTS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala sekolah: Albus Dumbledore&lt;br /&gt;(Order of Merlin, Kelas Pertama, Penyihir Hebat, Kepala Penyihir, Konfederasi Sihir Internasional)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mr. Artois yang baik, Dengan gembira kami mengabarkan bahwa kami menyediakan tempat untuk Anda di Sekolah Sihir Hogwarts. Terlampir daftar semua buku dan peralatan yang dibutuhkan. Tahun ajaran baru mulai 1 September. Hormat saya, Minerva McGonagall Wakil Kepala Sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKOLAH SIHIR HOGWARTS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seragam&lt;br /&gt;Siswa kelas satu memerlukan:&lt;br /&gt;1. Tiga setel jubah kerja sederhana (hitam)&lt;br /&gt;2. Satu topi kerucut (hitam) untuk dipakai setiap hari&lt;br /&gt;3. Sepasang sarung tangan pelindung (dari kulit naga atau sejenisnya)&lt;br /&gt;4. Satu mantel musim dingin (hitam, kancing perak)&lt;br /&gt;Tolong diperhatikan bahwa semua pakaian siswa harus ada label namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku&lt;br /&gt;Semua siswa harus memiliki buku-buku berikut:&lt;br /&gt;Kitab Mantra Standar (Tingkat 1) oleh Miranda Goshawk&lt;br /&gt;Sejarah Sihir oleh Bathilda Bagshot&lt;br /&gt;Teori Ilmu Gaib oleh Adalbert Waffling&lt;br /&gt;Pengantar Transfigurasi Bagi Pemula oleh Emeric Switch&lt;br /&gt;Seribu Satu Tanaman Obat dan Jamur Gaib oleh Phyllida Spore&lt;br /&gt;Cairan dan Ramuan Ajaib oleh Arsenius Jigger&lt;br /&gt;Hewan-hewan Fantastis dan di Mana Mereka Bisa Ditemukan oleh Newt Scamander&lt;br /&gt;Kekuatan Gelap: Penuntun Perlindungan Diri oleh Quentin Trimble&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peralatan lain&lt;br /&gt;1 tongkat sihir&lt;br /&gt;1 kuali (bahan campuran timah putih-timah hitam, ukuran standar 2)&lt;br /&gt;1 set tabung kaca atau kristal&lt;br /&gt;1 teleskop&lt;br /&gt;1 set timbangan kuningan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa diizinkan membawa burung hantu ATAU kucing ATAU kodok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ORANGTUA DIINGATKAN BAHWA SISWA KELAS SATU BELUM BOLEH MEMILIKI SAPU SENDIRI&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;“Dad, ini bukan bulan April, kan?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt; &lt;/span&gt;tanya Zav bodoh, melangkah kembali ke kursi setelah memberi burung hantu itu minum. Semua orang memandangnya dengan tatapan ‘&lt;em&gt;please dong ah&lt;/em&gt;’. &lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;“Apa? Kenapa?”&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt; &lt;/span&gt;tanya Zav lagi. Ia menyodorkan surat yang ia terima pada Dad.&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;“Jadi…”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt; &lt;/span&gt;ujar Mr. Artois perlahan dengan tatapan serius setelah selesai membaca surat itu. Perlahan, tatapan seriusnya berubah menjadi senyuman lebar, &lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;“Kita harus belanja banyak! Kau seorang penyihir, Nak! Akhirnya, seorang lagi penyihir di keluarga kita!”&lt;/span&gt;, Dad tampak gembira. Well, Mrs. Artois Muggle, begitu pula Vienna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;“Kalau begitu, kau harus bersiap, Zavala…”&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt; &lt;/span&gt;Mrs. Artois mengelus rambut Zav pelan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5581144060124134777-62684162483296704?l=casanovartois.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://casanovartois.blogspot.com/feeds/62684162483296704/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/08/summer-1980-surat-dari-hogwarts.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/62684162483296704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/62684162483296704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/08/summer-1980-surat-dari-hogwarts.html' title='Summer 1980; Surat dari Hogwarts'/><author><name>Artois.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03148100767738575209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5581144060124134777.post-8859986909382898710</id><published>2009-08-22T04:03:00.000-07:00</published><updated>2009-10-07T00:31:41.001-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profil'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artois'/><title type='text'>The Beginning: Mr. Artois</title><content type='html'>&lt;strong&gt;[Nama -- Panggilan]:&lt;/strong&gt; Zavala Casanova Artois — Zavala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Status Darah]:&lt;/strong&gt; Halfblood&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Tempat dan Tanggal Lahir]:&lt;/strong&gt; Venezia, 21 November 1969&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Suku Bangsa Karakter]:&lt;/strong&gt; Italia - Inggris&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Asrama]:&lt;/strong&gt; Ravenclaw&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Tahun Masuk Hogwarts]&lt;/strong&gt;: 1980&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Peliharaan]&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;Kucing — Sox. (Udah kawin dan punya beberapa anak =w=)&lt;br /&gt;Kucing — Fa (Anaknya Sox, lols.)&lt;br /&gt;Burung hantu — Qwerty (Punya keluarga.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Tongkat sihir]:&lt;/strong&gt; Reed 30cm, Inti taring drakula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Sapu terbang]:&lt;/strong&gt; —&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Posisi di Tim Quidditch]:&lt;/strong&gt; —&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 100%;font-size:130%;" &gt;&lt;strong&gt;Latar Belakang Keluarga&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Nama Ayah]:&lt;/strong&gt; Luigi Mazzola Artois (&lt;span style="color: rgb(90, 112, 179);"&gt;Ravenclaw&lt;/span&gt;, Pureblood)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Nama Ibu]:&lt;/strong&gt; April Mayvy Hargett (Muggle)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Nama Saudara]:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Basil Artois — kakak laki-laki (Penyihir, Halfblood, Durmstrang.) [Diklaim meninggal oleh orang setempat setelah sebuah peristiwa.]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Vienna Meaza Artois — kakak perempuan (Muggle)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Nathanael Felice Artois — adik laki-laki (Muggle)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Latar Belakang Keluarga]:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga semi-penyihir blasteran yang sederhana dan biasa-biasa saja. Keluarga Ayahnya adalah pengusaha millefiore turun-temurun yang terbilang cukup sukses. Si Ayah bertemu dengan Ibunya saat satu Universitas di Inggrid dulu dan jatuh cinta kemudian menikah. Namun sesuai denga aturan keluarga pengrajin millefiore, orang yang sudah pernah mengecap pendidikan pembuatan merchandise khas pulau Murano tidak boleh keluar dari pulau itu; jadilah Luigi Artois dan April Hargett kembali ke Italia dan menikah disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari empat anak turunan keluarga Artois; hanya Basil dan Zavala yang memiliki turunan darah penyihir. Basil kekeuh dimasukkan ke Durmstrang oleh si Kakek, dan setelah lulus dari Durmstrang, Basil sebagai anak sulung memutuskan untuk belajar keterampilan turun temurun keluargnya, namun Basil dinyatakan meninggal (karena hilang dan belum ditemukan) setelah sebuah peristiwa kecil yang disebabkan oleh Zavala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakak perempuannya, Vien, supergalak supernyolot padanya dan seringkali kasar padanya, tapi disisi lain sangat perhatian pada adik laki-laki pertamanya itu; sehingga Zavala seringkali lola terhadap rasa sakit yang dialaminya (udah kena tabok baru sadar beberapa detik kemudian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adik laki-lakinya, Nath, terobsesi jadi koki; tapi tidak punya skill dan sering membuat seisi rumah ribet sendiri ketika dia memasak, dan Nath menjadikan Zavala sebagai objek percobaannya sejak Nath mulai belajar memasak umur 7 tahun (umurnya dengan Zavala terpaut -+ 3 tahun;) dan selama jadi objeknya itu lambung Zavala akhirnya terbiasa dengan makanan yang rasanya super futuristik &lt;small&gt;(gado-gado saus spaghetti, spaghetti sambel oncom, dst /plaks)&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya? Zavala seksi sibuk keluarga :3 &lt;small&gt;/PM disepak&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 100%;font-size:130%;" &gt;&lt;strong&gt;Data Personal&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Personaliti Karakter]&lt;/strong&gt;: Agak cuek, iseng, sering asal ngomong, terkadang sinis, moody, suka bercanda, berisik, sering seenak jidat sendiri, bebal, &lt;em&gt;kayaknya krispi&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Bakat dan Kekurangan]&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;[#] Bakat:&lt;br /&gt;- (sepertinya) Pelajaran yang menggunakan tongkat.&lt;br /&gt;- Menggambar.(?)&lt;br /&gt;- Baseball.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[#] Kekurangan:&lt;br /&gt;- Semua pelajaran yang hubungannya dengan tanaman, teori dan bintang-bintangan.&lt;br /&gt;- Berhitung.&lt;br /&gt;- Bebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 100%;font-size:130%;" &gt;&lt;strong&gt;Keterangan Lain&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pelupa; sedikit alzheimer(?)&lt;br /&gt;- Indera perasanya cukup kuat.&lt;br /&gt;- Entah kenapa memiliki kebiasaan terus-menerus bertemu seorang senior seasramanyanya secara tidak sengaja setiap tahunnya.&lt;br /&gt;- Sejak tahun keduanya di Hogwarts, Sox, kucing peliharaannya kawin dengan kucing lain lalu tinggal di rumah induk betinanya; dan keluarganya mendapat berbagai kucing baru; yang mulai tahun kelimanya akan dibawa lagi; Fa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5581144060124134777-8859986909382898710?l=casanovartois.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://casanovartois.blogspot.com/feeds/8859986909382898710/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/08/beginning-mr-artois.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/8859986909382898710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5581144060124134777/posts/default/8859986909382898710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://casanovartois.blogspot.com/2009/08/beginning-mr-artois.html' title='The Beginning: Mr. Artois'/><author><name>Artois.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03148100767738575209</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
